Follow Me @aoifide_artworks

@aoifide_artworks

Friday, March 24, 2017

Reflection from "Beauty and the Beast"

Kemaren Rabu nonton Beauty and the Beast (pelarian dari UTS *eh) ๐ŸŒน Dari rating 1--10, aku kasih rating 10 wkwk ๐Ÿ˜‚ Keren banget soalnya! Ga cuma itu, ada nilai-nilai positif di dalamnya dan bisa dipelajari bareng-bareng. So, aku sih merekomendasikan film ini buat kalian tonton :)


Kenapa refleksi, bukan review film? Yaaa karena dari film ini aku juga belajar beberapa hal di bawah ini. So, kalo belum nonton, aku saranin buat nonton :p Efek, musik, apapun yang ada itu bagus banget (abis itu aku jadi suka dengerin lagu-lagunya lol) wkwkwk


Nilai-nilai yang kumaksud adalah:

1. Kekeluargaan
Semoga nggak bosen sama poin ini ya, gengs :p Kekeluargaan yang kumaksud bukan cuma soal Belle dan ayahnya (termasuk ibunya sebelum meninggal). Tapi juga tentang kekeluargaan yang dimiliki para pelayan setia istana Pangeran (a.k.a. Beast). Melihat Belle dan ayahnya yang saling menyayangi dan menjaga itu... Keren banget :) Belum lagi dengan kekeluargaan antara Lumiere, Cogsworth, Mrs. Potts, Chip, Plumette, Mrs. Wardrobe, dan piano (lupa namanya -.-). It touched my heart :) yap, seberapa banyak di antara kita yang tahu gimana kondisi anggota keluarga kita, bukan cuma secara keseluruhan? Dan gimana dengan hubungan kita dengan temen-temen di sekitar kita? Apa kita bersikap masa bodoh saat ada masalah, atau mau jadi seperti para perabot (eh, pelayan) di istana itu; yang kompak "membantu" Beast untuk bebas dari kutukan?

Btw nomer satu ada hubungannya sama nomer lima :p mager ngehapusnya, jadi silahkan baca terus hehe

2. Kesetiaan
Janji itu harus ditepati. Dan itu pula yang dilakukan Maurice, ayah Belle. Dalam kondisi terancam, dia tetep inget janjinya buat membawa oleh-oleh bunga mawar untuk anak semata wayangnya itu (yaa, walopun dia mencuri sih -.- yang bagian itu aku nggak setuju). Dan juga ketika para perabot itu tetap setia melayani Beast, walopun mereka kena dampak kutukan itu. Hmm, aku jadi berefleksi. Dalam kondisi sulit, apakah aku mau tetep setia melakukan apa yang jadi bagianku secara total? Atau aku putus asa dan mencoba kabur dari masalah itu?

3. Optimis
Semakin lama, kelopak mawar itu semakin berkurang. Beast pun mulai putus asa. Tapi ketika Belle datang, Lumiere merasa bahwa ada harapan baru untuk bebas dari kutukan. Dan harapan itu pula yang menyebar pada perabot-perabot yang lain. Ask ourselves: apakah kehadiran kita membawa harapan bagi orang lain? Atau sebaliknya, kitalah yang menyebabkan orang lain jadi putus asa?

4. Berani berkata tidak untuk sesuatu yang salah
Tentu banyak yang udah tahu tentang kriteria pasangan hidup, tapi kadang kalo udah ketemu sama yang suka sama kita, kitanya malah lupa sama kriteria itu -.- (padahal belum tentu yang suka sama kita sesuai sama kriteria itu. Hayoo). Nah, itu pula yang dialami Belle. Walopun dia tahu kalo Gaston suka sama dia, but she kept saying, "No!". Baginya, segala karakter buruk Gaston itu nggak sesuai sama dirinya. Belle pun merasa bahwa kalo dia menikah dengan cowok itu, Belle akan dikekang. Padahal Belle mau hidup bebas. Menjelajah. Nahh, pertanyaan lagi: apakah kita dan calon pasangan memiliki visi dan misi yang sama? Gimana dengan sikap-sikap kita? Saling melengkapi, atau malah saling melukai?

5. Family values
Setiap keluarga tentu punya nilainya masing-masing. Begitu pula dengan Belle yang dibesarkan dengan kebebasan untuk menjelajah sekitar, diajarkan untuk tetap bersabar dan rendah hati, serta Beast yang dibesarkan dalam keluarga kerajaan (ibunya, yang mengajari berperilaku baik dan rendah hati, meninggal saat pangeran masih kecil. Sejak itu, ayahnya mengajarinya untuk bersikap arogan dan kasar). Nah, gimana dengan keluargaku (dan keluarga baruku kelak)? Apakah kami sudah (dan akan) menerapkan nilai-nilai yang sesuai dengan firman Tuhan, atau belum?

Aku inget kata-kata Mrs. Potts pada Beast, saat Beast mengatakan bahwa Belle pun adalah pencuri seperti ayahnya:

"Belum tentu dia juga seorang pencuri. Jangan menilai seseorang dari ayahnya"

Waktu denger itu, aku juga inget sama ayat ini:
"Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri" (Ulangan 24:16, TB).

6. Berani menyatakan kebenaran

Sayangnya ini yang nggak dilakukan oleh para pelayan pangeran saat ayahnya mengajarinya bertindak arogan. Mrs. Potts bilang pada Belle saat cewek itu penasaran karena para pelayan di situ tetep setia sama pangeran, walopun dia kasarnya bukan main, "Kami di sana. Kami melihat. Tapi kami tidak berbuat apa-apa". Hmm, aku juga jadi berefleksi gini: Apakah saat aku melihat ketidakadilan, atau kesalahan yang dilakukan seseorang, apakah aku akan tetep mengungkapkan apa yang benar? Apakah aku akan tetep berani menegur kalo ada yang salah?

7. Love never fails
Wahahahaha udah sampe yang terakhir nih :p tentu kita tahu akhirnya akan happy ending, but dunno why dari sini aku diingetin bahwa kasih tidak pernah gagal. Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, dan sabar menanggung sesuatu. Dan seperti yang bisa kita tebak, kutukan itu berakhir ketika Belle menyatakan bahwa dia mencintai Beast. Walopun fisiknya soooo not adorable, tapi karakternya yang mau berkorban dan mau belajar untuk jadi lebih baik itu yang membuat Belle jatuh cinta (pada akhirnya kutukan itu hilang, dan Beast pun jadi pangeran lagi. Sikap arogannya pun berubah jadi seperti sikap anggota kerajaan yang seharusnya; yang rendah hati, menghargai orang lain... :)).

8. ...
Silahkan isi sendiri setelah nonton ya :p just share it with me! Hehe.



"True that he's no Prince Charming. But there's something in him that I simply didn't see" - Belle (Emma Watson) ๐Ÿ‘‘๐ŸŽถ

No comments:

Post a Comment