Wednesday, March 29, 2017

Obaja dan Amsal 27

Edit Posted by with No comments
S: Tetapi di gunung Sion akan ada orang-orang yang terluput, dan gunung itu akan menjadi tempat kudus; dan kaum keturunan Yakub akan memiliki pula tanah miliknya. (Obaja 1:17, TB)



O: Kenapa kok, cuma keturunan Yakub yang diselamatkan? Kenapa yang lain (termasuk Edom) nggak? Apa salah mereka?

Kesalahan orang-orang yang tidak diselamatkan itu adalah karena mereka yang menganggap diri lebih tinggi dibanding yang lain--termasuk Tuhan. Mereka... sombong!! Tuhan benci kesombongan, karena hal itu membuat manusia merasa bisa melakukan apapun tanpa Tuhan. Padahal Dia ingin agar umat-Nya selalu mengandalkan Dia.

A: Yakub yang dulunya seorang pengembara dan penipu tetap dijadikan bangsa yang besar oleh Tuhan. God never fails His promises. Aku juga mau untuk lebih memercayai Tuhan :)

P: Tuhan, ajar aku untuk tetep setia berpegang pada-Mu. Tolong aku buat nggak cuma terpaku sama janji-Mu, tapi agar fokusku hanya pada-Mu. Amin.



--**--


Proverbs for the day -- Chapter 27


S: Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah. (Amsal 27:6, TB)

O: Kalo versinya BBE, "The wounds of a friend are given in good faith, but the kisses of a hater are false." Wounds berarti luka-luka. Amsal hari ini berbicara bahwa, "Kalo kamu mengasihi orang lain dan tahu perbuatan mereka salah, tegurlah! Karena kamu tahu bahwa perbuatan itu salah." Masalahnya, nggak jarang orang takut buat menegur orang lain. Nanti kalo di-bully gimana? Kalo dianggep sok ngatur gimana? Yaaa, jadi banyak ketakutan tersendiri gitu kalo mau negur orang yang berbuat salah.

A: Sejalan kaya' Amsal kemaren. Sebagai pembimbing remaja, kalo ngelihat ada yang nggak beres, ya aku harus berani menegur pengurus maupun anggotanya. Bukannya "udur-uduran" (saling melempar tanggungjawab). Contoh: ada beberapa orang pengurus yang cara berpakaian mereka waktu persekutuan itu kaya' mau pergi main aja (kaos, celana yang bagian lututnya disobek). Sebenernya sih, nggak ada standar kesopanan yang pasti, sih. Tapi apa ya kami mau anak-anak di komunitas tersebut nantinya juga meniru model berpakaian mereka? Salah-salah, 10 tahun lagi gereja dihadiri oleh jemaat yang memakai celana dan kaos aja (kaya' mau main aja -.-). Mau negur itu rasanya sungkan banget. "Eh nanti kalo ngambek gimana? Kalo ini itu gimana..?". Tapi di sini Tuhan kuatkan, kalo menegur orang yang berbuat salah itu suatu kewajiban :) Harusnya, sebagai pembimbing, aku punya keberanian buat menegur. Because I love them, and I know that God loves them more.

P: Mampukan aku untuk dapat menegur berdasarkan firman-Mu, Tuhan. Tolong agar aku dapat menegur anak-anak yang mengecewakan-Mu dengan kata-kata-Mu, bukan kata-kataku. Amin.

0 comments:

Post a Comment