Follow Me @aoifide_artworks

@aoifide_artworks

Selasa, 04 April 2017

Matius 1 dan Amsal 1

Phew... abis baca empat kitab nabi kecil selama bulan Maret, bulan ini bacaannya dari Matius, 2 Yohanes, dan 3 Yohanes :) Anyway, bagi kalian yang penasaran kok, sejak bulan lalu aku sharing rhema di sini, kalian bisa cek sini ya. Yuk, sama-sama belajar buat Bible reading dan ngelakuin apa yang udah kita dapet :D


--**--



Matius 1


S:Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar...” (Matius 1:3)

O: Salah satu perempuan yang disebutkan pada Matius 1 ini adalah Tamar, yang adalah istri dari anak Yehuda (Kejadian 38). Istimewanya Tamar adalah.. dia jadi istri bagi ayah-anak. Eh, maksudnya? Awalnya, Tamar adalah istri bagi dua anak Yehuda—zaman dulu, apabila yang menikahinya dulu telah meninggal, maka anak berikutnya wajib menikahi orang yang sama untuk memperpanjang keturunan keluarga (Er dan Onan; yang kemudian dua-duanya mati karena Tuhan membunuh mereka saking jahatnya mereka). Nah, karena mau “menyimpan” Syela (anak bungsu Yehuda) sampai dia dewasa, Yehuda menyuruh Tamar untuk pulang ke rumah ayahnya. Ehhh, nggak disangka-sangka, singkat ceritaaaa kok Yehuda malah menghampiri Tamar sampe Tamar was being a pregnant. Dan itu semua karena ketidakjujuran Tamar (kalo dia bilang, “Maaf, saya Tamar, menantu Anda”, ceritanya pasti lain lagi) dan “kecerobohan” Yehuda (kalo dia mastiin bahwa si wanita itu adalah Tamar, dia pasti nggak akan macem-macem). Ujung-ujungnya, lahirnya Peres dan Zerah. Dan Peres nantinya akan menjadi salah satu nenek moyang Yesus.
So complicated lah pokoknya -.-“ Tapi ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari bagian ini:
1. Tindakan manusia nggak akan bisa melampaui rencana Tuhan. Buktinya, dari peristiwa memalukan itu, Tuhan memakai mereka untuk menjadi beberapa orang yang terlibat dalam karya keselamatan-Nya.
2. Hati-hati kalo mau berbuat sesuatu. Cek. Tanya ke Tuhan, “Apa bener ini sesuai sama kehendak Tuhan? Ato gimana?”. Nggak asal terabas.
3. Harus jaga kekudusan hidup. Jangan mengumbar-umbar kekudusan cuma untuk kepuasan sesaat.

A: 1. Aku bersyukur untuk penggenapan janji Tuhan yang bisa melibatkan siapapun. Ga harus orang yang “baik-baik”, Dia juga bisa pakai orang seperti Yehuda dan Tamar untuk menggenapi janji Tuhan. Ga boleh songong, mentang-mentang hidup lebih baik daripada yang lain terus nganggep yang lain cuma pemeran figuran dalam janji-Nya. Padahal Tuhan bisa aja pakai mereka dengan peran yang luar biasa... tinggal kitanya yang mau ato nggak.
2. Jaga kekudusan hidup. Ya ini udah sering dibahas sih. Apalagi kalo udah mulai ada godaan-godaan dari si Jahat, harus cepet-cepet berbalik kepada Tuhan. Berlindung pada-Nya.
3. Tanya ke Tuhan sebelum ngelakuin apapun (apalagi untuk hal yang besar, misalnya kuliah ke luar negeri, ato pernikahan, dll.), biar tahu apa yang Dia kehendaki.


P: Tuhan, ajar aku buat nggak sok tahu dan sombong karena merasa hidup lebih baik daripada yang lain. Aku bersyukur karena Engkau berkenan untuk memakai siapapun untuk menggenapi rencana-Mu. Kiranya hidupku berkenan juga di hati-Mu, ya Bapa. Amin.

--**--

Proverbs of the day – Chapter 1


S: “... untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan kepada orang muda...” (Amsal 1:4)

O: Hikmat itu penting buat siapapun dan dalam kondisi apapun. Nggak cuma waktu zaman kerajaan ato zaman kaya’ sekarang. Dari dulu sampe sekarang, manusia tuh butuh hikmat. Tapi sayangnya, hikmat semakin lama semakin dianggap sebagai sesuatu yang kuno. “Halah, itu mah buat emak engkong gw”. Padahal no. Di manapun dan siapapun kita, yang namanya hikmat itu wajib dimiliki. Dan nggak bisa diperoleh dengan sembarangan :) Hikmat yang sejati itu cuma bisa diperoleh dari Tuhan.
Kita bakal kesulitan memperoleh hikmat kalo kita a) mengeraskan hati buat baca firman Tuhan dan ngelakuinnya; b) nggak mau dengerin didikan dan nasehat orang lain. Tuhan bisa pake siapapun buat ingetin kita, lho (lihat Matius), dan c) nggak mau merendahkan hati untuk dibentuk dengan cara Tuhan

A: Sebenernya aku ada sharing tentang bagian ini sih :p Tapi bingung ceritanya gimana haha. Intinya, aku belajar dari sebuah pengalaman bahwa kalo sejak awal kita mengeraskan hati dan nggak mau ditegur orang lain (which means kita mengabaikan didikan Tuhan), hmmm... siap-siap aja. Orang lain pun (termasuk anak-anak kita kelak!) akan menirukan hal yang sama. Didikan itu penting bangettt. Karena dari situ, kita juga bisa belajar dari cari tahu apa yang Tuhan mau :) jadi jangan keraskan hatimu, sebelum semuanya terlambat.

P: Lord, thank You for them who You’d given to me to teach and tell the right things to do. Ajar aku buat nggak mengeraskan hati, ya Bapa. Aku rindu agar anak-anak rohaniku juga mau terbuka dan menerima saran (dan ngelakuin, tentunya)... for I know that You love them, as You love me too... Amin :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar