Wednesday, April 5, 2017

Jam Mr. Roger

Edit Posted by with No comments
Jadi ceritanya, beberapa waktu yang lalu aku pernah ikut lomba bikin cerpen di Line. Tapi berhubung ceritanya (mungkin) sooo krik krik, jadi nggak menang deh :p Hehe. Makanya kutaruh di sini lol. So, ini dia :) Btw, maafkan daku kalo ceritanya gaje dan ambigu haha.

--**--


Suasana di asrama kampus Eustachiusa Dumbledore sangat sepi. Hanya ada suara jangkrik dan hembusan angin yang terdengar. Entah karena mahasiswa di sini adalah mahasiswa strata dua (S2), jadi sebagian besar waktu digunakan untuk mengerjakan tugas dan penyelesaian tesis. Hm... tetap saja, suasananya terlalu kelewat sepi kalau begitu.

“Duh, pasti semua orang sebel gara-gara aku telat!” aku mengomeli diriku sendiri sambil berjalan melintasi lorong asrama.
Derak kayu di sepanjang lorong membuatku semakin terburu-buru, seolah-olah lantai kayu itu dapat patah dan menghasilkan lubang besar yang dapat menelanku hidup-hidup. Langkahku semakin cepat saat menyadari bahwa kamar-kamar yang kulalui terlihat sunyi. Nggak ada seorang pun yang kujumpai di sini. “Hm, mungkin mereka emang udah di ruang santai semua, ya?” pikirku.
Begitu tiba di dekat tangga, aku menarik nafas lega. Ternyata ketakutan tadi cuma mengada-ada. Maksudku, mana ada lantai yang terbelah dan bisa menelan orang—selain di dalam film dan buku bacaanku itu? Sambil mendesah, “Huh, jangan-jangan ketakutanku itu gara-gara baca novel tadi malam?” aku pun menuruni tangga, berbelok ke kanan, dan akhirnya sampai di ruang santai yang terletak di ujung kiri lorong.
“Maaf, aku telat!” aku berseru dan menggeser pintu ruangan itu.
Detik berikutnya, aku jadi kehabisan kata-kata saat melihat apa yang mereka lakukan di sana.
Semua orang menatap ke berbagai arah, tapi nggak ada gerakan dan suara yang muncul. Tatapan mereka tampak kosong. Jess—teman sekamarku—sedang menyandarkan kepalanya pada Jason, pacarnya. Yang lain tampak tertahan saat melakukan sesuatu; seperti memainkan CD musik, menari, dan sebagainya. Apa mereka baru lomba siapa yang bisa jadi patung terbaik? Atau apa? pikirku gelisah.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Mr. Roger, salah satu dosenku pernah bercerita bahwa beliau dan rekannya telah membuat jam yang bisa menuju ke berbagai waktu yang diinginkan pemakainya. Mr. Roger juga bilang bahwa jam itu masih disimpan di ruang kerjanya, mengingat adanya kemungkinan alat itu bisa disalahgunakan oleh orang-orang yang nggak bertanggung jawab.
“Tunggu dulu!” pikirku panik, “jangan-jangan mereka... mengambil jam itu, dan gara-gara itu mereka jadi patung seperti ini!?”
Pikiranku semakin kacau saat melihat jam itu ada di atas meja di belakang Jess dan Jason. Apa alat itu bisa memengaruhi semua orang di ruangan ini? Kalau benar, kenapa aku—yang ada di depan pintu ruangan ini—nggak terkena dampak apa-apa?
Ya ampun! Ini gawat! Mr. Roger bisa marah kalau sampai tahu alatnya ada di sini! Aku segera meninggalkan ruang santai dan menuju ke paviliun beliau yang ada di utara asrama. Yap, beliau juga merupakan salah satu dosen yang mengawasi mahasiswa yang tinggal di sini. Mungkin hal ini cukup aneh bagi sebagian orang, tapi di Ever After Land (termasuk kampus ini), dosen yang tinggal di lingkungan asrama mahasiswa itu sudah biasa; dan Mr. Roger salah satunya.
“Mr. Roger! Anda di dalam?” aku mengetuk pintu paviliun Mr. Roger. Lampu paviliunnya menyala, tapi nggak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Apa beliau sedang keluar dan lupa mematikan lampu?
“Mr. Roger! Anda baik-baik saja, kan!?” aku kembali mengetuk pintu, tapi masih nggak ada balasan dari beliau.
Tiba-tiba aku tersentak. Apakah jam itu bisa memengaruhi semua penghuni asrama ini, dan hanya aku satu-satunya yang nggak terpengaruh? Mungkin Mr. Roger nggak membuka pintu karena beliau sedang melakukan sesuatu di dalam, dan jam itu menyebabkan gerakan beliau terhenti?
Kemudian aku meninggalkan paviliun Mr. Roger untuk pergi ke sekeliling asrama. Siapa tahu ada yang bisa kujumpai untuk memastikan bahwa apa yang kulihat tadi bukan hanya halusinasi. Tapi hasilnya... nihil. Nggak ada seorang pun yang kujumpai di sekitar asrama. Ini aneh! Sekarang masih jam delapan malam, tapi nggak ada seorang pun yang kutemui di sini. Apa semuanya sedang belajar di kamar masing-masing...?
Saking lelahnya, aku terduduk lemas di salah satu kursi ruang makan yang baru saja kuperiksa. Apa mereka mencoba menghindariku? Apa mereka menganggapku adalah mahasiswa yang aneh, karena jarang keluar kamar? Pikiranku berputar-putar memikirkan mereka.
Akhirnya aku menangis di salah satu kursi lobi asrama. Duh, ampun. Aku bukan tipe anak yang mudah menangis hanya gara-gara alasan seperti ini. Tapi sebodo amat. Nggak ada yang melihatku saat ini, kan? Jadi aku bisa puas menangis di sini...
“Beta? Kamu ngapain di sini?”
Aku tersentak saat mendengar suara yang sangat akrab di telingaku. “Nggak  mungkin,” pikirku sinis, “aku pasti cuma berhalusinasi.”
“Be, ini beneran kamu, kan?”
Aku nggak tahan lagi dengan suaranya yang tampak cemas itu. Jadi aku segera mengusap air mataku dan menoleh ke arahnya. Ternyata betul. Aku kenal suara itu, karena pemiliknya adalah Alfa, kekasihku sejak kami kuliah S1 di kampus ini. Alfa baru saja lulus S2 bulan lalu, dan itu yang membuatku penasaran: untuk apa dia ke sini?
“Hai, Al,” aku mencoba tersenyum, “kamu ngapain di sini?”
“Harusnya aku yang tanya,” dia mengerutkan dahi.
“Temen-temenku... mendadak jadi aneh,” jawabku singkat.
“Maksudmu?” tanyanya penasaran.
“Jess tadi mengundangku untuk ke ruang santai asrama hari ini, jam delapan malam,” aku menceritakan apa yang kualami beberapa saat yang lalu, “tapi waktu sampai di sana, mereka jadi patung. Dan aku lihat ada jam pengatur waktu yang dibuat Mr. Roger di sana...”
“Ohh... terus kamu mikir kalo jam itu yang bikin mereka jadi patung?” sela Alfa.
Aku mengangguk. “Iya.”
Dia tersenyum, tapi senyumannya itu bukan senyuman biasa.
“Kenapa?” tanyaku heran.
“Ayo sini, ikut aku,” cowok itu menarik tanganku.
“Kita mau ngapain?” aku menahan gerakannya.
“Ke ruang santai. Ayo!”
Tanpa mengetahui maksudnya, akhirnya aku menurut. Setidaknya aku telah menemukan seseorang yang bisa kuajak bicara, setelah sebelumnya aku kebingungan setengah mati mencari orang yang nggak mematung dan terdiam.
Guys, Beta dateng!” tiba-tiba Alfa berseru.
Entah karena suara Alfa atau bukan, tapi tiba-tiba ruang santai terdengar gaduh. Begitu mendengar suara, “BUK! GEDUBRAK!”, aku langsung merapatkan diri pada Alfa.
“Eh, apaan itu?” bisikku.
Dia nyengir. “Tenang, Be, tenang...”.
Setelah Alfa membuka pintu, kami mendengar suara konfeti beserta terompet gulung. Aku semakin ternganga saat melihat Jess dan Jason membawakan kue untukku.
“Selamat ulang tahun, Beta!” seru semua orang yang ada di ruang santai.
“Astaga...,” aku kehabisan kata-kata.
Well, gimana nggak demikian, waktu aku melihat ruangan itu telah diubah menjadi tempat untuk merayakan ulang tahunku yang ke-22? Di sisi kiri, ada balon-balon dan meja panjang untuk berbagai kudapan. Sisi kanan ruangan memang nggak banyak berubah, tapi tetap saja... aku terharu atas kejutan ulang tahun pada malam ini.
Thank you, guys,” kataku sambil menahan tangis haru (duh, mulai deh, melankolisnya).
“Jangan baper—bawa perasaan—dong, Be,” Alice menepuk-nepuk bahuku, “anggaplah ini hadiah untuk keberhasilan tesismu. Untung surprise-nya berhasil. Hahaha..”
“Iya, nih, gara-gara si Rafa yang bikin lampionnya jatuh,” Jason nyengir ke arah Rafa—satu-satunya teman cowokku yang berambut hitam.
“Maaf, deh,” Rafa menggaruk-garuk kepala, “seenggaknya nggak ada yang pecah, kan?”
“Eh, tunggu,” potongku sambil mengusap air mataku, “kalian tadi mengambil jamnya Mr. Roger, ya?”
“Jam?” Jess memiringkan kepala.
“Jam itu ada di sini.”
Spontan aku dan teman-temanku menoleh ke arah suara. Ternyata Mr. Roger! Beliau membawa jam yang kumaksud itu!
“Jam ini baru saja selesai. Tapi belum saya praktekkan karena menunggu waktu yang tepat,” kata beliau, “hei, kenapa ruangan ini jadi berantakan?”
“Ah, maaf,” Jess segera menyahut, “hari ini Beta ulang tahun, Mr. Jadi kami di sini menggunakan ruangan ini sebagai tempat untuk merayakan ulang tahunnya.”
“Oh, kamu ulang tahun, ya?” Mr. Roger menyalamiku, “selamat ulang tahun!”
Aku tersenyum, “Terimakasih, Mister.”
“Eh, Alice! Maaf!” tiba-tiba terdengar suara Ling-Ling, temanku yang suka mengepang rambutnya, “aku nggak sengaja menumpahkan tehmu!”
“Oh, iya! Nggak apa-apa kok, Ling!” Alice segera masuk dan ikut membantu Ling-Ling membereskannya. Mereka ke arah.. meja di mana aku mengira jam Mr. Roger ada di situ! Ya, ampun! Aku benar-benar berhalusinasi!
“Kalau nggak salah, tadi saya dengar ada yang mengetuk paviliun saya,” kata Mr. Roger lagi, “siapa, ya?”
“Ehm,” aku nyengir, “maaf, Mister. Tadi saya sempat mengira jam Mister ditaruh di sini. Ternyata saya salah lihat. Maaf, Mister.”
“Sudahlah,” Mr. Roger tersenyum, “baiklah. Saya kembali dulu ke paviliun, ya. Tadi saya cuma mau memeriksa kondisi di sini, kok. Selamat malam, anak-anak.”
“Selamat malam, Mr. Roger!” balas kami sambil membungkukkan badan.
Saat hendak memasuki ruang santai bersama teman-teman, Alfa menepuk bahuku dan berbisik, “Tunggu. Aku mau kasih kamu sesuatu.”
Aku mengerutkan dahi. “Kenapa, Al?”
Dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, dan membuka sebuah kotak kecil dalam genggamannya. Di dalamnya ada sebuah liontin emas putih. Oh, wow...
“Selamat ulang tahun, Be. Terima kasih karena telah bersedia mencintaiku sampai saat ini. Semoga dua tahun lagi, aku bisa berdiri di depanmu dan mengucapkan janji suci itu padamu.”
Aku tersenyum. “Makasih, Al...”
“Ehm, boleh aku mengalungkan liontin ini padamu?”
Sebelum mempersilakannya mengalungkan liontin itu, aku bertanya padanya, “Surprise tadi juga idemu kah, Al? Kenapa tadi semuanya kompak jadi patung waktu aku ke sini sebelumnya?”
Alfa meringis. “Karena tadi mereka bingung harus berbuat apa waktu kamu sampai di sini. Terus, aku punya ide buat bikin mannequin challange gara-gara itu. Yaa, walaupun challange-nya cuma berupa foto, sih.”
Aku tertawa mendengarnya. Astaga, aku pasti terlalu mengagumi penelitian Mr. Roger, sampai-sampai berpikir bahwa teman-temanku jadi patung karena jam itu. Ha! Lucu sekali.

Sementara Alfa mengalungkan liontin itu, aku berharap agar jam Mr. Roger bekerja—karena aku ingin momen ini bisa terhenti beberapa saat...

0 comments:

Post a Comment