Sunday, August 3, 2014

Korban vs Kurban

Posted by Tabita Davinia at Sunday, August 03, 2014
Guys, aku nggak typo lho itu. Haha. Dua kata itu emang punya makna yang berbeda. Hayo tahu nggak bedanya apaan??


Hari ini tema kebaktiannya tentang Berkurban dan Menjadi Berkat. Dan di situ Koko Pendeta (karena yang kotbah masih muda #eh *peace K’ Daniel :B) sempet mbahas tentang perbedaan arti korban dan kurban.



Jadiii.. kata KORBAN punya arti melakukan sesuatu dengan terpaksa (bahasa Inggrisnya victim). Contoh aja nih: Korban mudik Lebaran 2014, Korban krisis Crimea, Korban perang Irak, dst.


Siapa sih, yang mau jadi orang yang terkena dampak hal-hal yang nggak menyenangkan kaya’ contoh di atas? Well... itu baru contoh aja sih. Oke lanjut.




Kata KURBAN punya arti melakukan sesuatu dengan ikhlas dan kasih (bahasa Inggrisnya sacrifice). Yap, contohnya aja udah jelas.. Kristus telah mengurbankan nyawa-Nya untuk menebus dosa kita. Dia melakukannya dengan penuh kasih, dengan tulus hati. Sama sekali nggak ada unsur paksaan untuk melakukannya.



Contoh lain aja, nih ya. Kalo kalian keliling kota menjelang Idul Adha, biasanya bakal ada yang jualan kambing buat dijadiin korban... eh, kurban buat disembelih (abis itu dimasak :9). Setahuku lho ya, mereka yang jualan kambing nulis “Kambing Kurban” di papan penanda tempat penjualan kambing. Aku hampir nggak pernah ngeliat ada yang nulis “Kambing Korban” soalnya. Wkwk..



So Guys, yang pengen aku tekankan di sini adalah.. apakah selama ini kita mengurbankan diri untuk melakukan kehendak Tuhan, atau kita malah lebih sering merasa, “Hahhh.. harus gini lagi, gitu terus.. Aku ini  udah berkorban banyak lho!” (baca: melakukan sesuatu dengan terpaksa)?



Tadi K’ Daniel membahas peristiwa 5 roti dan 2 ikan dari Matius 14:13-21. Di ayat 13, dikatakan bahwa setelah mendengar sebuah peristiwa yang baru aja terjadi, Yesus memutuskan untuk menyingkir dari keramaian dan pergi ke tempat yang sepi. Tapi ternyata, Dia justru dicari-cari banyak orang. Mereka ingin mendengarkan pengajaran-Nya dan disembuhkan-Nya (untuk yang sakit).


Eh tapi.. peristiwa apa sih yang membuat Tuhan Yesus memutuskan untuk menjauh dari keramaian itu?


Guys, kalo kita baca di perikop sebelumnya (dari Matius 14:1-12), di situ diceritakan bahwa Yohanes Pembaptis, kerabat dekat-Nya yang membaptis-Nya di sungai Yordan, dipenggal kepalanya oleh Raja Herodes (atas akal liciknya Herodias, istri raja tersebut). Bayangin Guys, betapa sedihnya Yesus saat tahu berita itu. Jadi wajar kalo Dia pengen menyendiri untuk beberapa saat.



Nahhhh, ternyata Dia nggak bisa sendirian, Guys! Yesus justru dicari-cari banyak orang. Hm, anyway, sebenernya kan bisa tuh, kalo Dia ngusir mereka saat itu juga? Lha wong baru sedih kok malah digangguin itu gimana coba??



Iya, Dia punya hak buat itu. But He didn’t do it. Yesus lebih memilih untuk mengurbankan perasaan-Nya, karena Dia begitu mengasihi orang banyak itu. Dia lebih memilih untuk mengurbankan kepentingan-Nya untuk menangisi kematian kerabat-Nya, dan memilih untuk mengajar orang banyak dan menyembuhkan yang sakit. Wow.. it’s so an amazing sacrifice kan Guys? :)



Dan bukan cuma itu, di situlah terjadi peristiwa 5 roti dan 2 ikan. Bayangin hari yang mulai gelap, toko-toko udah padha tutup, dan ada banyak orang yang harus dikasih makan saat itu juga.



Jadi nggak salah kan kalo para murid meminta Yesus untuk menyuruh orang banyak itu untuk pulang dan cari makan sendiri-sendiri. Lagian, tujuan-Nya ke tempat itu kan buat menyendiri.



Tapi Dia bilang, “You must give them food.”. Huaduh! 5000 orang laki-laki (belum termasuk perempuan dan anak-anak boo!) kudu dikasih makan pake apa coba?? Roti aja kalo dibelah-belah sekecil mungkin juga nggak bakal bisa ngenyangin mereka!!



Di sinilah mujizat itu terjadi. Pengurbanan 5 roti dan 2 ikan itu justru menjadi berkat buat banyak orang. Siapa yang ngasih makanan itu? Pedagang kaya kah? Perwira kah? Pemungut cukai kah? Orang Farisi kah?? NO! He was just a kid. Cuma seorang anak.



Mungkin aja anak itu nggak pernah berpikir bahwa bekalnya, yang harusnya dia makan sendiri, bakal dimakan oleh (lebih dari) 5000 orang? Apalagi, hello, bekalnya itu cuma 5 roti dan 2 ikan! Apa sih arti bekal itu buat 5000 orang lebih itu??



Tapi anak itu memilih untuk memberikan bekalnya itu buat Tuhan Yesus. He chose to sacrifice his food to be eaten by 5000 people. Wow, sebuah pengurbanan yang justru jadi berkat buat banyak orang kan, Guys? :)



Aku yakin, anak itu nggak merasa terpaksa waktu memberikan bekal itu kepada-Nya (entah dia dibujukin pakai apa tuh sama Andreas wkwkwk). Justru peristiwa itu tercatat di Alkitab, dan apa yang dilakukan anak itu juga ditulis oleh Yohanes.




Guys, ayo kita sama-sama belajar untuk memberikan yang terbaik buat Tuhan. Jangan sampai kita merasa terpaksa untuk melakukannya ya. Tapi lakukan apa yang Tuhan kehendaki dengan penuh kasih dan ungkapan syukur atas anugerah yang telah Dia berikan pada kita :) Susah? O jelas! Sampai sekarang pun aku juga masih belajar untuk itu. Tapi ayo, give the best for God because of His amazing grace for us :D




Dan jangan sampai kita merasa berkorban buat melakukan yang Tuhan kehendaki. Tapi berkurbanlah untuk jadi berkat bagi orang lain :) Sooo.. selamat berkurban, dan menjadi berkat bagi mereka ^^ Soli Deo Gloria!

0 comments:

Post a Comment

 

Chocolates of Life Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea