Friday, August 10, 2012

A Worthed Waiting (10)

Posted by Tabita Davinia at Friday, August 10, 2012
Kalaupun dia bahagia, biarlah asal kebahagiaannya itu dari Tuhan. Aku hanya penyalur kebahagiaannya saja - @tabita_davinia


Starbucks, hari Sabtu, sepulang sekolah...


“Dia di mana, sih? Sudah 10 menit lebih, nih :\” aku melirik jam tanganku. 10.10. Kak Akira telat 10 menit. Betul apa kata orang. Terlambat itu dibenci semua orang.

Kak Akira datang, tepat saat aku hampir menelpon ponselnya.
“Maaf, Akane :) Tadi aku rapat OSIS. Hehehe~ Jangan khawatir, aku pulang duluan, kok :D” katanya sambil memanggil seorang pelayan yang ada di dekat kasir.


5 menit kemudian, sepiring donat coklat – moka – dan blueberry tiba di meja kami. Disusul dengan chocolatte float-ku dan coffee float Kak Akira *:9 delicious!*.

“Jadi?” Kak Akira bertanya sambil meminum minumannya, “apa yang mau kamu bicarakan denganku?”
Aku menjawab, “Ehm... Maaf, kalau aku telah menyeret Kakak ke sini. Aku cuma ingin ngobrol banyak sama Kakak :D”


Sebenarnya, itu bukan satu – satunya alasanku, sih. Aku ingin tahu apa saja yang bisa membuat Kak Akira senang. Yah, aku nggak sempat bertanya pada Kyoko, sih. Setidaknya, aku ingin Kak Akira senang XD



“Oh,” dia tersenyum, “boleh. Oh, ya. Jam yang bagus :)” katanya sambil menunjuk jam tanganku.
Aku melirik jam tanganku. “Hehe~ Danke ^^ Aku dikasih sama Kak Wataru, sih. Omong – omong, tumben OSIS rapat :D” kataku mencari bocoran acara OSIS.

“Sebentar lagi, kan, festival musim gugur. Nah, sekolah mau mengadakan acara buat festival itu. Aduh!” Kak Akira menepuk dahinya, “aku malah membocorkan rahasia XD” katanya sambil tertawa.

Aku meringis. “Jangan khawatir. Aku tutup mulut kok :)” kataku.

Kak Akira meringis. “Iya iya~ Gomawo, Akane :D” balasnya sambil mengambil donat.

“Apa, sih yang jadi kesukaan Kakak?” tanyaku iseng *dan memang sengaja begitu*

Kak Akira berpikir sejenak. “Hm... Aku suka langit sore, angin sepoi – sepoi, terus~ kebab :9 dan musik. Kalau kamu?” katanya.

“Apa yaa~? Aku suka pemandangan di gunung, sandwich, buku, dan warna biru :3” jawabku.

Kak Akira berkata *dengan senangnya*, “Wah, sama dong :D Blue is my favorite, too :) Aku juga suka warna putih, sih. Semua warna yang kalem, aku suka semua :D”

Aku tertawa. “Aku juga, lho :D Hahahaha~ Eh, ya ampun. Sudah jam segini --" Kakak mau ke mana?” tanyaku saat melihat Kak Akira beranjak dari kursi.

“Ke toko buku. Aku yang bayar, ya :)” kata Kak Akira.



Asikk~ dibayari :D (y) #plak XD


Setelah keluar dari Starbucks, kami menuju ke eskalator. Toko buku ada di lantai 2 mall ini.



“Oh ya, Akane. Tolong jangan panggil aku ‘Kak Akira’ lagi, ya.”


Kata – katanya menghentikan langkahku. Apa lagi ini? Apa dia mau dipanggil dengan namanya yang lain? Toshihiko? Thomson? – nggak nyambung~

“Jadi?” tanyaku, “aku harus memanggilmu apa?” *dan berusaha sebisa mungkin untuk nggak memanggilnya ‘Kak’*

“Panggil ‘Akira’ saja, deh,” jawabnya sambil tersenyum, “tapi kalau kamu memang keberatan, panggil aku ‘Akira-kun’ :)”

Tenggorokanku tercekat. Apa pantas aku memanggil dia dengan sebutan ‘Akira-kun’? Haloo~ Aku belum pernah memanggil cowok lain seperti itu!!

“Ehm... Oke. A... Akira... Akira-kun :)” kataku setengah kikuk.
Kak Akira tersenyum. “Kamu mau dipanggil apa, Akane? Akane-chan?” tanyanya.



APA? Ulangi sekali lagi. APA? Akane-CHAN?! *banting meja*

“Ehmm... Entahlah. Aku belum dipanggil seperti itu sama Kak Wataru. Hehehe~ Nggak apa – apa, sih. Memangnya kenapa?” tanyaku heran.

Kak, eh... Akira-kun mengalihkan pandangan dari koridor mall.

“Kadang – kadang, aku ingin dipanggil dengan sebutan yang lain. Kamu, Kyoko, Kana, dan adik – adik kelasku selalu memanggilku ‘Kak Akira’. Nah, aku ingin mencoba mencari sebutan lain. Bagaimana, Akane? Mau, kan?”katanya.

Aku mengalah, deh :\ “Hanya sebulan. Oke? Kalau Akira-kun sudah tidak betah, aku akan memanggilmu ‘Kak Akira’ lagi,” jawabku.

“Oke :) Kalau aku betah?” tanyanya (pertanyaan retoris~)

“Aku akan selalu memanggilmu ‘Akira-kun’ XD” jawabku, “oke, coba panggil aku ‘Akane-chan’ :D” tambahku.

Akira-kun meringis. “Hehehe~ Akane-chan~ :D” katanya.

Aku tertawa. “Wah~ Asik :D Baiklah, Akira-kun boleh memanggilku ‘Akane-chan’, asal jangan memanggilku seperti itu di depan yang lain XD” kataku.

Dan kami-pun masuk ke dalam toko buku. Setelah menitipkan tas dan jaket, Akira-kun menarik tanganku (duh... layaknya orang pacaran-kah? Aku jealous --")

“Kenapa kamu menarikku?” tanyaku penasaran.
“Agar kamu nggak hilang, Akane-chan :)” jawabnya sambil tersenyum lebar (nggombal, nih ceritanya :\)

Dan, eh... Kurasa aku mulai senang untuk menghabiskan waktu bersama dengan Akira-kun...

0 comments:

Post a Comment

 

Chocolates of Life Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea