Saturday, August 25, 2012

A Worthed Waiting (12)

Posted by Tabita Davinia at Saturday, August 25, 2012

Kasih itu lembut, kasih itu tak tinggi hati. Kasih itu tidak sombong, tapi bersuka kar’na keb’naran...
-Tanpa Kasih-


“Belakangan ini kamu kelihatan akrab dengan Kak Akira, ya Akane?” Kana bertanya padaku sambil berjalan ke dalam kelas.
Aku meringis. “Hehe... Nggak juga, kok. Dia mengajakku untuk membahas buku yang dibelinya kemarin Sabtu J” jawabku.


Mulai hari ini, sampai besok Jumat, sekolah akan mengadakan festival musim gugur. Berhubung sekolah sudah selesai mengadakan tes tengah semester, maka dalam festival ini juga akan diadakan bazaar dan banyak lomba.
Dan sekarang, kami sedang melihat – lihat stand yang ada di dalam bazaar. Ada stand permainan, stand makanan minuman, stand komputer, dan sebagainya. Kami mengunjungi stand minuman (berhubung Kana tampak kehausan).


“Oh,” Kana mengangguk – angguk, “kamu yakin kalau kamu nggak akan menyukainya?” tanyanya lagi sambil membayar Coca Cola-nya.




Aku termenung.
Oke, beberapa hari ini, kurasa aku menyadari bahwa Akira-kun nggak seburuk yang kukira. Mungkin karena sebelumnya aku berpikir hal – hal yang buruk tentang dia (duh)...


“Ng... Kurasa sekarang aku bisa menerimanya,” kataku sambil tersenyum.




Kana – yang langsung meminum Coca Cola-nya– membelalakkan matanya.
“APA? Kamu suka sama Kak Akira? Woww :D” dia nyengir senang.


._. Aku bilang ‘bisa menerima’, bukan berarti kalau aku menyukainya, kan?


“Hei, aku bilang kalau aku bisa menerimanya, bukan menyukainya, tahu ><” elakku.
“Oi, Akane!”


Wataru datang menghampiriku. Dia meringis saat melihat Kana.
“Halo, Kana :D Eh, Akane. Aku nanti nggak bisa pulang bareng kamu. Ada rapat OSIS. Sepertinya besok pagi akan ada acara yang nggak bisa diadakan. Kamu nanti pulang sama Akira, ya. Hehe...” Wataru berkata sambil tersenyum.

Aku memiringkan kepala. “Lho? Memangnya Kak Akira nggak rapat OSIS?” tanyaku.

“Dia ada acara keluarga. Makanya aku minta tolong dia untuk mengantarmu pulang,” jawab Wataru.

Aku mengangguk. “Oke J


Setelah Wataru pergi, Kana menyikutku. “Eciee~ Akane nih :D Selamat ya. Hahaha~”


._. Dengan tampang masa bodoh, aku berkata, “Dasar Kana. Jangan – jangan kamu yang suka sama Kak Akira, kan? :P”

“XD Masa’, sih? Nggak dong. Hahaha~” Kana tertawa, “eh, ada stand buku :D ayo ke sana!” ajaknya sambil menarikku ke stand itu.



--“ Dasar pengalih pembicaraan. Ha!


-*-



Sekolah (atau lebih tepatnya, festival sekolah) selesai pukul setengah 11.


Akane-chan, tunggu aku di depan perpustakaan, ya. Hehe~ Masih ada urusan sebentar dengan OSIS. – Akira-kun

K Urusan apalagi, nih?

Lupakan saja.
Aku segera menuju ke lantai 2, tempat perpustakaan itu berada. Di sana, aku datang tepat saat Akira-kun keluar dari sana.

“Eh, Akane-chan XD” dia menyapaku.

Aku tersenyum. “Kita bisa pulang sekarang, kan?”





Apa? K.I.T.A??


Yang benar saja!


Akira-kun tampak salah tingkah. “Ehm... Iya J Oi, Wataru! Aku pulang duluan, ya!” Akira-kun melongok ke dalam perpustakaan.


Wataru keluar dari perpustakaan. “Sip :D Jaga Akane baik – baik, ya. Awas, kalau dia kenapa – napa, kita nggak sahabatan lagi :P” katanya sambil nyengir.

“--" Kak Wataru ngapain, sih? Lebay, ah XD” kataku.

Akira-kun tertawa. “Jangan khawatir, sobat. Dia aman, kok denganku. Aku yakin J” katanya meyakinkan Wataru.

“Oke. Hati – hati di jalan, ya,” Wataru tersenyum sambil mengantar kami berdua ke arah tangga.




Entah Wataru yang dapat firasat atau bukan, aku merasa bahwa perjalanan pulang kali ini nggak lancar. Dan apa yang kuperkirakan itu benar...


-*-


“Bab 2-nya Crazy Love membuatku berpikir lagi, deh,” kataku tiba – tiba.


Akira-kun mengalihkan pandangan dari jalanan ke arahku. “Benar, kan? Bagian itu memang menusuk sekali..,” katanya.

“Aku nggak menyangka bahwa bisa ada orang yang dipanggil pulang Tuhan saat sedang mengabarkan Injil,” aku berkata sambil melihat langit.

Cowok itu mengangguk. “Tapi dengan begitu, orang lain jadi tahu, bahwa orang itu telah diakui Tuhan juga,” ujarnya.


Ketika kami tiba di depan sebuah restoran, Akira-kun menghentikanku.
“Akira-kun? Ada apa?” tanyaku penasaran.

Akira-kun menjawab dengan bisikan, “Aku melihat ada segerombolan orang yang mendatangi kita.”

“Lalu apa maksudnya? Siapa tahu mereka hanya berpapasan dengan kita,” kataku menenangkannya.

Akira-kun menggeleng. “Mereka tampak seperti segerombolan penjahat. Lihat! Mereka membawa belati! Dan belati itu berlumuran darah!”


Belum selesai dia berkata – kata, terdengar teriakan, “TOLONG!! ADA PEMBUNUH!!”


“Akane-chan, cepat ke arah suara itu! Aku akan menelpon polisi!” Akira-kun segera mengeluarkan ponselnya.

Sedangkan aku langsung berlari menuju ke arah sumber suara itu. Di sana, tampak seorang wanita yang berlumuran darah, dan  seorang pria yang tampak ketakutan.

“Apa yang terjadi, Tuan?” tanyaku pada si pria, sementara aku mencoba menghubungi ambulans dan polisi.

Si pria menjawab dengan ketakutan, “Ada segerombolan penjahat yang menyakiti istriku. Sementara itu, salah satu dari mereka merampok uang dan Blacberryku!!”



“Halo, polisi? ... Ada kasus perampokan dan percobaan pembunuhan. ... Di jalan Tokugawa Ieyasu. ... Baik, tolong datang secepatnya, Pak. Terima kasih. ...”

Dan nggak sampai 5 menit, polisi dan ambulans sudah tiba di lokasi kejadian.


“Maaf, Nona dari SMA Kimura Yasube, ya?” tanya salah satu petugas kepolisian itu.

Aku mengangguk. “Iya. Kenapa, ya?” tanyaku heran.

“Sepertinya, sewaktu perjalanan ke sini, saya melihat seorang teman Nona dikerubungi banyak anak laki – laki di dekat sini. Saat saya melihat seragamnya, sepertinya dia satu sekolah dengan Nona,” jawab si petugas.



Tunggu. Jangan – jangan...




“AKIRA-KUN!!!” aku langsung berlari menuju ke tempat Akira-kun. Sementara di belakangku ada 2 petugas yang mengikutiku.


Di sana, Akira-kun tampak sedang berdebat dengan salah satu cowok dari gerombolan itu.


“Hei, nggak usah berlagak, ya. Dasar anak SMA murahan!” kata cowok itu (A).

“Terserah kalau kamu mau melaporkan kejadian ini ke kepolisian. Kami bisa menghajarmu sebelum kamu melakukannya,” timpal cowok lain (B).

“Kalau kamu ada di posisi kami, pasti kamu juga akan melakukan hal yang sama, kan?” kata cowok lain dari yang lain (C).



Akira-kun langsung berkata, “Walaupun aku sedang kehabisan uang, adikku sedang sakit, dan banyak tugas kuliah yang harus kukerjakan, aku nggak akan pernah berbuat seperti itu!”




Aduh, Kyoko!! Kalau kamu di sini, kamu pasti langsung pingsan!



BUK


Akira-kun hampir saja jatuh ke tanah, kalau aku nggak langsung berlari ke arahnya.


“Lihat, siapa yang datang menolong cowok murahan ini?” kata A sinis.

“Kasihan cewek itu. Cantik, tampak cerdas, tapi mau mengencani cowok seperti ini. Ckckck~” C mengomentariku yang (berusaha) menolong Akira-kun.

B menghampiriku. “Hei, bagaimana kalau kita menghabiskan waktu dengan cewek ini? Kelihatannya dia punya banyak waktu, kan?”




Aku ingin muntah!



“Jangan sentuh dia!” terdengar suara Akira-kun, dan dia berhasil memukul B yang berusaha mendekatiku.



“ANGKAT TANGAN!” 2 petugas yang datang bersamaku mengacungkan pistol ke arah mereka (yes!)



Salah satu dari polisi yang datang belakangan langsung mendatangi mereka. “Nah, kalian bolos kuliah lagi, ya? Memalak, melukai, dan hampir membunuh seorang wanita. Sekarang, ikut saya ke kampus!”


Heh? Bapak itu bukan polisi? Lalu dia siapa?


“Untung 
saja Pak Rektor ikut kami. Kalau tidak, mungkin para mahasiswanya bisa menghabisi pacar Anda, Nona,” kata petugas yang sempat berbicara denganku tadi.
Aku kaget. “Eh, bukan. Dia bukan pacarku!” kataku sambil menoleh ke arah Akira-kun. Ya ampun! Tangannya memar, dan dia terluka!



“Pak, tolong antar kami ke klinik terdekat!”
-*-

0 comments:

Post a Comment

 

Chocolates of Life Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea