Saturday, July 21, 2012

1st Session: “God Loves Me”

Posted by Tabita Davinia at Saturday, July 21, 2012
Nah~ Sekarang aku mau menuliskan firman yang aku dapat dari sesi pertama sewaktu Living Together. Selamat membaca! ^^

***

Pernah mendengar pidato, kan? Biasanya di pidato itu ada kata – kata “Yang kami kasihi...”. Nah, boleh percaya atau nggak, tapi bisa saja bahwa kata – kata itu hanya basa – basi, lho! --"

Omong – omong soal kasih, kira – kira kasih Tuhan itu basa – basi nggak, ya? Di Alkitab kan, sering dikatakan bahwa Tuhan itu kasih, Bapa itu kasih... Tapi kan, kita nggak lihat buktinya. – mungkin itu yang kalian pikirkan.

Nah... bicara tentang kasih Tuhan, apa yang terlintas di benak kita? Tuhan memberikan blackberry lewat orangtua kepada kita? Dia memberikan 5 metropop Illana Tan lewat sahabat kita? Dia menjawab doa kita tentang pasangan hidup, ketika orang yang nggak kita duga bilang, “Saranghaeyoo...” pada kita?



Hal – hal seperti itu (jujur, ya) masih bisa dibilang sangat kecil dibandingkan pengorbanan Kristus di kayu salib. Dia disalib demi kita, orang – orang berdosa! Bukankah ini adalah pengorbanan terbesar di bumi ini, karena Bapa telah mengorbankan Anak-Nya (Yesus Kristus) ke dalam dunia ini?

Jadi, kasih Tuhan itu ada buktinya lho J Jangan pernah beranggapan bahwa nggak ada seorang-pun yang nggak sayang (bahkan mencintai) kita. Mau, kan merubah mind set kita yang seperti itu? :D


Sekarang, ayo baca Lukas 15:11-32 J

Hampir setiap dari pembaca sudah pernah membaca perikop ini, kan? Yap, perikop ini menceritakan perumpaan tentang anak yang hilang.

Tahu jalan cerita ini, kan? Ada seorang bapak kaya yang punya 2 orang anak. Nah, suatu hari, anak bungsunya meminta harta warisan bapaknya. Setelah mendapat harta itu, dia menjual hartanya, lalu pergi meninggalkan rumahnya, dan menghabiskan uangnya dengan berfoya – foya.

Setelah uangnya habis, dia bekerja di peternakan babi. Dan karena dia nggak tahan bekerja di sana, dia pulang kembali ke rumah bapaknya; dia-pun ingin mengakui dosa – dosanya pada bapaknya. Bahkan, dia ingin agar diperlakukan sebagai hamba bapaknya.

Tapi!! bapaknya justru menerima anak bungsunya ini. Dia mengampuni anaknya, dan merayakan kepulangan anak bungsunya.

Nah, si sulung nggak terima. Dia, kan sudah bekerja keras di ladang bapaknya. Tapi dia ‘nggak dibolehkan’ sama bapaknya untuk berpesta. Sementara adiknya yang telah berfoya – foya dan menajiskan diri malah dipestakan.

Dan akhirnya, kita dapat menyimpulkan bahwa si bapak sama sekali nggak melarang anak sulungnya untuk berpesta. Ya, kan? Itu sebabnya aku memberikan tanda kutip di antara kata ‘nggak dibolehkan’.


Oke, sekarang... Bayangkan bila kita jadi si bapak.

1. Kita dimintai harta warisan oleh anak. Dan bukan hanya itu, si anak pergi meninggalkan kita!
2. Si anak juga berfoya – foya, menajiskan diri dengan para pelacur
3. Dan si anak pulang dengan keadaan miskin, hartanya habis tak bersisa (jelas hanya baju yang dipakainya yang tersisa).


Kalau aku yang jadi bapaknya...

1. Aku pasti sakit hati. Ya jelas, dong. Anak sendiri kok, kurang-ajar banget sama bapaknya. Bapaknya belum meninggal, kok sudah dimintai harta warisan.
2. Aku kecewa berat --" Pasti malu banget waktu tahu anaknya menajiskan diri di tempat yang jauh. Dan bukan nggak mungkin juga, kalau tiba – tiba nama baik keluarga tercoreng dengan manisnya.
3. Aku bakal nggak habis pikir sama si anak. Anak nggak tahu diri. Sudah menghabiskan harta warisannya, sekarang malah balik ke rumah. – mungkin itu yang akan kukatakan pada si anak.

Untung aku bukan bapaknya. Kalau iya, aku sudah berbuat yang aneh - aneh sama si anak bungsu.


Sekarang, ayo lihat perumpamaan ini dari kacamata Tuhan :)


Tahu, nggak? Kalau kita melihat dari perumpamaan ini, sebenarnya Tuhan Yesus sedang mengumpamakan diri-Nya sebagai sang bapak, dan 2 orang anaknya itu adalah anak – anak di dunia ini. Nah, kira – kira siapa, ya, yang jadi anak sulung dan bungsu-Nya?

Anak yang bungsu... Dia punya banyak dosa. Dan dia (dengan seenaknya) malah meninggalkan bapaknya. TAPI, dia kembali ke rumahnya. Dia memohon ampun pada bapaknya. Sebenarnya, Tuhan Yesus sedang mengumpamakan anak bungsu sebagai para pendosa. Pemungut cukai, pelacur, orang yang melakukan banyak pelanggaran terhadap hukum taurat, dan sebangsanya.

Anak yang sulung... Dia bekerja dengan giat di ladang bapaknya, TAPI dia ‘cemburu’ karena tidak diberi hak untuk berpesta bersama dengan teman – temannya. Dia ‘cemburu’ pada si bungsu karena adiknya itu (yang sudah menajiskan diri) malah dipestakan oleh bapaknya. Sebenarnya, Tuhan Yesus sedang mengumpamakan anak sulung itu sebagai orang – orang Farisi dan ahli Taurat.


Oke! Sekarang kita akan membahas tentang bukti dari kasih Allah kepada umat manusia.

1. Lewat penciptaan
à semua ciptaan yang lain (tumbuhan, darat, laut, benda penerang, hewan, dan sebagainya) diciptakan Tuhan hanya dengan berfirman. TAPI, kita diBUAT Allah. Maksud dari kita – yang – diciptakan – oleh – Allah ini adalah, agar kita dibuat sesbuai dengan gambar dan rupa-Nya.

2. Lewat karya keselamatan

à Sebenarnya, nih... Bisa saja, lho Allah punya keinginan untuk tidak menyelamatkan kita! Kenapa? Karena Dia melihat bahwa Adam dan Hawa memberontak! Kemungkinan besar, Allah berpikir untuk menghapus manusia seperti mereka. Bisa saja Allah membuat edisi baru (kaya’ majalah aja XD) untuk dunia. Bisa saja Allah menyengsarakan manusia, menganiaya manusia, dan menghancurkan semua manusia (Allah Maha Kuasa, lho). *Nahm ayo baca Yohanes 3:16*

*TAPI (sekali lagi TAPI), Allah tidak melakukan hal – hal itu. Dia justru mengutus Anak-Nya (yaitu Yesus Kristus) untuk menyelamatkan kita. Kristus telah mati untuk kita, karena Dia ingin agar kita selamat. Grace and justice has happened at Golgota. Because He LOVES us!*


Oya, kembali ke Lukas 15:11-32

*Kalau si anak pergi dengan alasan merantau ke tempat lain, terus kembali ke rumah dengan kondisi bangkrut, itu sih masih wajar (lho, kan dia pamit baik – baik). TAPI, si bungsu ini pergi dengan cara yang menyakitkan (silahkan baca sendiri di awal :P)!! Nah, waktu dia kembali, si bapak malah menerima si bungsu. Itu anugerah yang luar biasa!! Seperti itulah keadaan kita ketika Bapa mau menerima kita (yang telah mengakui dan bertobat atas semua dosa kita) ^^

Allah kita, tuh Allah yang baik, kaya, dan berhikmat! Dia tahu dan selalu tahu kebutuhan dan keinginan kital; Dia mampu mengabulkan setiap hal; dan Dia tahu apa yang baik dan benar, maupun apa yang salah dan tidak sesuai dengan kehendak-Nya *kalau berenang kaya’ sekarang gimana ya? Aku ngetik sambil jealous ngeliat keluarga yang berenang semua -__-*.

Boleh percaya boleh nggak, tapi biasanya... Bobot kasih manusia sering diukur dari kedalaman, keluasan, dan seberapa besar pengorbanannya untuk kita (nggak heran kalau ada lagu “Panjang dan lebar, tinggi dan dalam. Kasih Yesus lebar dan dalam...”)

*Kata – katanya Pak Petrus nih :D ‘Ketika kita diselamatkan-Nya, maka kemuliaan Kristus itu jelas terpancar dari keselamatan-Nya’*

Sebelum kisah anak yang hilang, ada 2 perikop yang menceritakan tentang domba dan dirham yang hilang. Kalau domba dan dirham itu, kan nggak bisa balik sendiri. Harus kita yang mencari mereka. TAPI, kalau si anak yang hilang... Dia harus mengambil langkah untuk bertobat kepada Tuhan, kepada Bapa-nya. Ingat, Tuhan selalu menunggu, dan merangkul kita untuk bertobat.






Hore~ Selesai :D Eh, masih ada 1 sesi lagi, nih. Wkwkwk~ Aku ngetik sesi 1 ini sampai selesai, sewaktu menunggu dan melihat sepupu dan keluarga yang berenang dengan riangnya di hotel. Udah nggak ke gereja sore ini, eh.. masih ditambah nggak boleh berenang. Yah, tapi Tuhan tahu yang terbaik buat aku kok XD Semoga besok boleh berenang! (y)

0 comments:

Post a Comment

 

Chocolates of Life Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea