Saturday, May 19, 2012

A Worthed Waiting (3)

Edit Posted by with No comments


Aku nggak ngerti sama jalan pikirannya Kak Fuyuki. Maksudku, kenapa sih dia ngaku – ngaku kalau dia adalah Wataru – kakakku yang udah lama menghilang?


“Ehm, Akane. Sori... Tadi entah kenapa aku jadi ngomong kaya’ gitu,” kata Kak Fuyuki saat kami melewati jembatan yang terletak 3 rumah dari rumahku.


Aku mengangkat bahu. “Nggak apa – apa, sih. Toh, kakakku itu memang udah pergi dari rumah 5 tahun yang lalu. Lupakan saja,” kataku sambil tersenyum kecil.


And Fuyuki speechless. Ha!


“Akane, apa sampai segitunya kamu benci sama kakakmu sendiri?” tiba – tiba Kak Fuyuki memegang bahuku.


Glek.



(gantian) Aku nggak bisa ngomong apa – apa. Oke, rasa bersalah memang ada di hatiku, tapi jujur ya. Aku memang agak benci sama Wataru, mengingat semua sikapnya; termasuk saat dia minggat setelah ngomong kasar pada orang tua kami.



“Sejujurnya, sih... Iya,” aku menjawab dengan terpaksa. Dan, eh... Pegangan Kak Fuyuki pada bahuku mulai mengencang.



“Akane, kamu ini, kan adik tunggalnya. Dia sangat menyayangimu, kamu tahu sendiri, kan? Memangnya apa yang membuatmu bisa ngomong kaya’ tadi?” tanya Kak Fuyuki lagi.

Oke, aku harus jawab apa? Jujurkah, atau nggak? Ehm...


“Dia udah ngomong kasar sama orang tuaku! Dia udah ngecewain hati mereka! Dan dia minggat begitu saja dari rumah! Orang tuaku betul – betul nggak tahu harus bagaimana lagi, Kak. Sampai sekarang, mereka masih trauma kalau melihat aku berada dekat dengan cowok yang nggak begitu mereka kenal. Tolong jangan ngaku – ngaku sebagai kakakku, Kak!!” jawabku sambil melihat ke arah sungai yang berada di bawah jembatan.


Rasanya mau nangis :(


“Akane, sori! Aku nggak bermaksud buat bikin kamu nangis~” kata Kak Fuyuki yang *sepertinya* melihat wajahku yang hampir menangis.

“Kamu kuantar pulang dulu, deh. Orang tuamu ada di rumah?” tanyanya sambil menggandengku, dan berjalan cepat ke arah rumahku.

Aku menggeleng. “Mereka pergi ke restoran milik okaasan. Mungkin 1 jam lagi mereka baru pulang,” jawabku pelan. Begitu selesai ngomong, aku sudah sampai di depan rumah.


Kak Fuyuki melihat jam tangannya. Kemudian, dia berseru,


“Ya ampun! Aku lupa! 1 jam lagi ada pertemuan OSIS! Aduh...
Aku pulang dulu, ya. Sori banget, Akane :O” kata Kak Fuyuki sambil melambaikan tangannya begitu aku membuka gerbang rumah.


Aku tersenyum. “Nggak apa – apa, kok. Maaf, kalau aku tadi agak marah sama Kakak,” kataku sambil memegang besi yang ada di gerbang. Yang kuajak bicara tersenyum dan kemudian berlari ke arah rumahnya.



-O0O-


Sebulan kemudian...



Kyoko Kanagawa!”




Pak Kirishima sedang mengabsen kelas kami. Sementara itu, aku menengok ke kursi yang jadi singgasana ketua kelasku itu. Masih kosong. Kosong sejak seminggu yang lalu.



“Aneh sekali. Ke mana anak itu? Apa ada yang tahu ke mana Kyoko pergi?” tanya Pak Kirishima sambil memandangi kami semua.



“Mungkin dia di-DO sama kepsek XD” kata cowok A



“Nggak! Dia pasti lagi liburan ke Cina. Tahu sendiri kan, dia kan kaya :\” kata cewek B


Kana menyikutku. “Ehm... Mungkin dia sakit?”



Lupakan pembicaraan – tentang – Kyoko hari ini. Aku langsung ke kelas Kak Akira begitu jam istirahat tiba *omong – omong, Kak Fuyuki nggak kelihatan --"*



Dan apa yang kutanyakan membuat Kak Akira langsung jadi pucat pasi.





“Sudah kuduga, kalian pasti akan mencari – cari Kyoko,” katanya sambil bersandar di ambang pintu kelasnya.




“Dia sakit. Pneumonia.” Kak Akira terlihat lelah, gelisah, dan cemas.






Aku dan Kana nggak bisa ngomong apa – apa selain, “HAH?”





“Sekarang dia ada di Cina. Untuk pengobatan. Aku di rumah hanya bersama dengan nenekku. Orang tua kami pergi bersama Kyoko,” tambah Kak Akira.




Jadi, A salah. Kyoko nggak di-DO *lagian, mana mungkin anak baik seperti dia di-DO?*. B benar, Kyoko memang ke Cina, tapi nggak liburan. Kana benar, Kyoko memang sakit#ini ngapain sih?



“Kak, boleh tahu nggak, sejak kapan Kyoko sakit?” tanya Kana.


“Sejak dia kelas 3 SMP. Kondisinya nggak begitu baik setelah ujian. Ternyata dia kena pneumonia. Untung ketahuannya waktu tahap awal. Tapi nggak tahu kalau sekarang... Makanya aku cemas kalau dia kenapa – napa.”


Jadi itulah alasan kenapa Kak Akira bertanya padaku waktu aku ke kelasnya sebulan yang lalu. Apakah Kyoko ada masalah atau nggak.



“Kak, kita berdoa saja. Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik buat dia, kok :)” kataku sambil berusaha menguatkan hati Kak Akira.



“:) Makasih, Akane. Aku senang karena adikku betul – betul disayangi sama teman – temannya,” kata Kak Akira sambil tersenyum.




-O0O-



“Akane, ada yang mau kami bicarakan denganmu.”



Suara Okaasan memanggilku yang sedang berjalan mengambil air di kulkas. Wajah Okaasan dan Otoosan tampak serius. Ups.



“Ada apa?” aku duduk di sebelah mereka sambil memikirkan apa yang akan mereka katakan. Apa tentang nilaiku yang menurun, atau tentang kesibukanku yang berlebihan?




Sweetheart, kakakmu kecelakaan.”



Suara Otoosan menggelegar bagaikan petir di siang bolong.


Otoosan, jangan bercanda deh :\” kataku sambil tersenyum masam. Tapi Okaasan menggeleng.



“Kami serius, Akane. Wataru kecelakaan. Hari ini. Kami diberitahu oleh tantemu yang bekerja 
sebagai perawat di rumah sakit,” kata Okaasan meyakinkanku.


Aku membantah. “Tapi, bukannya kalian nggak menganggap dia sebagai anak kalian lagi?! Dia, kan minggat setelah ngomong kasar sama kalian...,” kataku penuh emosi#esmosi



“Akane,” Otoosan masih berusaha untuk sabar, “walaupun dia begitu, tapi dia tetap anak kami, dia tetap kakakmu juga. Itu nggak akan mengubah apapun.”



Dan aku langsung menangis sejadi – jadinya



-O0O-


Kak, kamu nggak apa – apa, kan? Cuma itu yang bisa kupikirkan sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Semuanya jadi terasa dingin, suram, dan monoton.


Aku keluar dari mobil sambil melihat rumah sakit tempat dia dirawat. Memang benar kata orang, Rumah sakit bisa membuat hatimu gelisah.”



“Maaf, Suster. Aku ingin melihat keadaan anakku, Wataru Haibara. Apakah dia baik – baik saja?” tanya Okaasan pada suster yang berada di bagian resepsionis.



“Oh, yang tadi pagi kecelakaan ya? *suster ini terlalu kejam#kataku*” tanya si suster, “dia baik – baik saja. Sekarang dia sudah bisa dijenguk,” jawabnya sambil tersenyum manis.



Begitulah. Akhirnya kami pergi ke ruangan yang dimaksud.



Di sana, Wataru tampak tenang. Dia tidur pulas. Dan entah kenapa kakiku sama sekali nggak bisa digerakkan.

“Akane, kamu kenapa? Belum bisa ketemu sama Wataru?” tanya Otoosan saat aku *malah* berlindung di belakangnya.

“Nggak apa – apa, kok. Dia baik – baik saja. Walaupun mungkin dia belum sadar...” kata Okaasan.


Aku menjawab, “Bukan itu. Entah kenapa, dia sangat berbeda dari sebelumnya. Aku... aku nggak bisa...” sementara itu, Otoosan berjalan menuju ranjangnya.


“Wataru, bangun, Nak :)” kata Otoosan sambil memegang tangan kakakku.
Nihil.


“Tunggu, aku mau di sini dulu. Bolehkah?” tanyaku sambil setengah memohon.


Orang tuaku mengangguk. “Tentu. Kami akan pergi ke lobi. Setelah itu kita pulang. Otoosan akan menjaganya. Jangan lama – lama, ya,” kata Okaasan, lalu meninggalkanku berdua dengan Wataru.




KLEK#pintu ditutup



Aku duduk di samping Wataru. Wajahnya penuh lebam. Apa mungkin dia terantuk aspal? Entahlah.



“Kakak, aku di sini :’) Tolong bangun, Kak.”



Kata – kataku terputus saat melihat jam tangan yang ada di meja di sampingku. Jam itu persis dengan yang biasanya dipakai Kak Fuyuki. Eh...




Apa itu berarti Kak Fuyuki memang Kak Wataru?




Yang benar saja! Nggak mungkin, deh! Aku mencoba membantah pikiranku sendiri. Kemudian, aku melihat ke arah wajahnya. Eh...#lagi








DIA MIRIP BANGET SAMA KAK FUYUKI!






Ya ampun.





Speechless. Nggak bisa ngomong apa – apa :\



“Ini betul – betul Kak Wataru?” aku mencoba memanggil Wataru yang masih tertidur.

Nihil. Dia nggak bangun.

Sekarang aku harus gimana? Berteriak tepat di depan telinganya? Nggak mungkin. Dia masih koma. Percuma aku menghabiskan suaraku hanya untuk membangunkannya.

Menangis? Sori, itu bukan kebiasaanku.

Ehm...


Otakku terus berpikir. Sementara itu, aku melihat hari mulai gelap. Ups.





Oke.



Apa dia bisa bangun kalau aku melakukan ini?






Aku memejamkan mata, lalu mulai bersuara.

Above all powers, above all kings. Above all nature and all created things. Above all wisdom, and all the ways of men. You were here before the world began...


Aku melihat Wataru masih belum bangun. Jadi, aku melanjutkan,


Above all kingdoms, above all thrones. Above all wonders the world has ever known. Above all wealth, and treasures of the earth. There’s no way to measure what You’re worth...


Lama – lama aku bisa nangis :( Susah banget menyanyi kalau mengingat orang yang kamu cintai dalam keadaan sekarat.


Crucified, laid behind the stone. He lived to died, rejected and alone. Like a rose, trampled on the ground. You’ve took the fall, and thought of me... Above all...”


Aku kembali melihatnya. Dia masih tidur.


Aku memegang tangan Wataru, dan berkata,


“Kak, cepat pulang. Aku kangen sama Kakak :(“


Entah ini betulan atau nggak, tapi tiba – tiba dia menggenggam tanganku, walaupun nggak sekuat yang kukira.


“Akane?” dia berbisik. Ia tersenyum lemah saat melihatku.



Masukkan rasa lega, bahagia, dan bersyukur ke sini.


“Syukurlah. Kakak sudah bangun :)” kataku sambil tersenyum, berusaha untuk nggak nangis.


“Maaf, ya Akane. Selama ini aku nggak ada bersamamu. Aku tahu itu pasti melukai perasaanmu...,” Wataru berkata sambil mengelus pipiku



“Nggak apa – apa. Toh, semuanya udah selesai, kan. Aku ingin kita nyanyi bareng lagi, curhat, dan...,” kata – kataku terputus saat Otoosan dan Okaasan masuk ke sini.


“Wataru~!!” Okaasan langsung memeluk Wataru, sementara Otoosan tersenyum lega.


“Sekarang,” katanya, “kita jadi keluarga utuh lagi.”



-O0O-

Annyeong haseyo! ^^

Maaf, aku lama banget nggak buat cerita ‘We’re Teens!’. Banyak hal yang terjadi dan harus dilakukan. Termasuk tes RSBI dan ujian masuk SMA -___- Males banget deh~

Oke. Bagian ke-4 cerita ini memang sudah selesai. Tapi masih ada yang harus diceritakan di bagian ke-5. 

Yak! Cerita tentang Kyoko yang sedang sakit di Cina. Dan apa yang akan dilakukan Akane dan Kana waktu mengetahui sahabat mereka yang sedang sakit parah itu?


Kasih tahu nggak yaa~ :P wkwkwk~

0 comments:

Post a Comment