Tuesday, February 14, 2017

Yohanes 7--9

Posted by Tabita Davinia at Tuesday, February 14, 2017
Sebenernya udah kelar baca Yohanes sejak berhari-hari yang lalu sih. Tapi selalu jha ada yang bikin nggak bisa nulis di sini :" hiks. Yasudahlah huehe. Maafkeun yak.

Setelah ada enam pasal yang dibahas, maka selama beberapa hari ke depan akan ada ada lima belas pasal yang dibahas. Yap, lima belas, yang bahkan nggak semua perikopnya tertulis di tiga Injil lainnya. But it shows that John is one of Jesus' inner circle :) Oke, langsung aja yaaa. 






Ketika Hari Raya Pondok Daun tiba, saudara-saudara Yesus ingin agar Yesus menunjukkan diri-Nya di hadapan semua orang dan bersaksi bahwa Dialah yang mereka nantikan (karena waktu itu mereka nggak percaya sama Dia). Aku bingung, kok bisa ya ada orang yang nggak percaya kalo Sodaranya itu adalah Sang Mesias, padahal udah ada banyak bukti tentang kuasa-Nya lalala? Belum lagi saat orang Farisi berusaha menangkap-Nya, namun Yesus dibela Nikodemus (baca di sini)? Hmm... emang sih, secara manusiawi nggak gampang buat menyadari hal itu. Itu bener-bener di luar kemampuan logika kita, dan cuma Tuhan yang bisa kasih hikmat buat kita bisa paham.


--**--


"Yesus menggunakan kata gunai untuk menyapa wanita yang tertangkap berzinah itu. Gunai berarti 'wanita terhormat'," begitu kata Pdt. Benny Solihin saat menguraikan firman Tuhan dari Yohanes 8:1--11.

Di Perjanjian Lama, seharusnya baik cowo maupun cewe harus dihukum mati karena ketangkap basah berzinah. DUENG. Tapi, kenapa cuma yang cewe yang ditangkep? Cowonya mana? Hmm -.- Besar kemungkinan si cowo itu termasuk salah satu komplotan orang Farisi waktu itu. Hah!? Yaaa, namanya orang mau menjatuhkan Yesus mah kaya' gitu ya. Hm. Dan lagi, mereka emang sengaja menjebak Yesus dengan menggunakan hukum Taurat (rajam mati) bagi si cewe. Padahal menurut hukum Romawi, nggak boleh merajam mati orang. Nah, lho. Dilematis, kan? Tapi apa yang Yesus lakukan out of the box banget. Iya. Dia menuliskan sesuatu di tanah sementara orang-orang menanyai-Nya. Dan jawabannya juga bikin malu, "Siapa yang tidak pernah berdosa, hendaknya ia yang melempari perempuan ini dengan batu". Lah. Siapa yang nggak pernah berdosa? Orang Farisi pun juga pernah berbuat dosa! Kemudian mereka pun meninggalkan Yesus dan si cewe.

"Gunai," panggil Yesus, "di manakah mereka yang hendak menghukum engkau?"

Mungkin si cewe bakal membatin, "Tuhan, aku ini bukan wanita terhormat! I'm a sinner!". Tapi Dia menjawab, "Tidak ada, Tuhan". Dia sadar bahwa yang ada di hadapannya saat itu adalah Tuhan yang menyelamatkannya dari hukuman mati. Dia merasa tidak layak untuk diperlakukan sebagai wanita terhormat.

"Aku pun tidak menghukum engkau," jawaban Yesus tentu melegakan si cewe; tapi masih ada lagi, "pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai sekarang".


Panggilan Yesus kepada si cewe juga berlaku untukmu dan untukku. Ya, walaupun kita ini berdosa, tapi Dia mau melayakkan kita untuk menerima anugerah-Nya. We are saved because of His grace, not because by what we've done. Maukah kita menanggapi panggilan, "Gunai"-Nya dengan, "Ya, Tuhan! Ini aku! Aku akan mengikut Engkau hingga aku menutup usiaku!"? :)

Ingat, ketika Dia memanggil kita, itu artinya akan ada harga yang harus dibayar sebagai pengikut-Nya. Dan bayarannya berupa "meninggalkan dosa-dosa kita", seperti yang Dia katakan pada si cewe itu. Nah, siapkah kita ketika Dia memanggil kita untuk mengikuti-Nya kalau demikian?


--**--


Bagian berikutnya adalah tentang Yesus yang diragukan oleh masyarakat, bahwa diri-Nya bukanlah Sang Mesias. Complicated banget lah -.- tapi di sini aku diingatkan bahwa Dia datang bukan untuk mencari mereka yang merasa dirinya yang benar; tapi Dia mencari mereka yang terhilang--dan rindu untuk diubahkan-Nya. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang teman, "Yohanes itu lebih membahas sisi ke-Allah-an Yesus. Coba liat, di tiga Injil itu kan, lebih ke arah kronologisnya. Sedangkan di Yohanes enggak."

Yap, untuk memahami-Nya kita butuh hikmat, gengs. Kita nggak bisa cuma mengandalkan aka sehat dan rasionalitas yang kita punya. Dan hikmat itu datangnya dari Roh Kudus. We need Holy Spirit to understand the truth of Holy Words! :)


--**--


"Kalo orang itu bisa jadi tuna netra, yang salah siapa? Dia sendiri, atau orang tuanya?" tanya para murid Yesus saat mereka melihat orang tuna netra.

Pada zaman itu, masyarakat beranggapan bahwa seseorang bisa mengalami hal yang tidak mengenakkan karena kesalahan orang tuanya (atau juga karena dirinya sendiri, sih). Tapi jawaban Yesus (lagi-lagi) di luar dugaan, "Bukan keduanya, tapi agar pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia...". DEG. Nulis tentang ini, aku jadi inget tulisanku yang ini. Sejak pertama kali ketemu Koted (ehmm hampir sepuluh taun yang lalu kaya'nya haha!) sampe sekarang, banyak hal positif yang aku denger tentang dia. Bamboo spine yang dia punya nggak bikin dia mundur dari imannya, tapi justru semangat hidupnya semakin berkobar di dalam Tuhan, dan dia bisa jadi berkat buat orang lain (Awas, Ko, kalo baca ini. Ntar helmnya nggak cukup :p wkwk) :)

Singkat cerita, setelah orang tuna netra ini disembuhkan Yesus, (lagi-lagi) orang Farisi bikin heboh. Waktu denger ada orang yang disembuhin di hari Sabat, orang itu langsung ditanyai macem-macem. "Kamu tahu nggak siapa yang nyembuhin kamu?", "Walah, Dia mah nggak menaati hari Sabat!", "Lha menurutmu sendiri, Dia itu siapa?"

Waktu ditanyain pertanyaan terakhir, orang itu menjawab, "Dia (Yesus) itu seorang nabi". HUAA. Dan karena masih nggak percaya, orang-orang Farisi pun memanggil orang tuanya dan bertanya, "Ini anakmu bukan? Yang dulunya lahir dalam kondisi tuna netra dan sekarang bisa melihat?"

Orang tua si eks tuna netra itu menjawab, "Kami tahunya kalo dia itu lahirnya memang begitu. Dan kami juga nggak tahu gimana dia bisa sembuh. Tanya sendiri ke dia, deh. Dia udah besar, pasti bisa ngomong sendiri". Mereka bilang begitu karena takut dianggep membela Yesus yang udah nyembuhin anak mereka.

Kelanjutannya itu bikin gregeten sih :p hahaha. Intinya orang itu menjawab apa adanya berdasarkan apa yang dia alami dan yang dia ketahui. Walaupun orang itu akhirnya diejek karena dianggap "Ah, dia mah orang biasa. Kita kan, udah paham betul sama hukum Taurat", diusir karena dianggap mau menggurui mereka, tapi pada akhirnya... saat orang itu bertemu dengan Yesus setelah dia diusir, Yesus bertanya kepadanya, "Percayakah engkau kepada Anak Manusia?". Orang itu menjawab, "Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepadanya."

Dan jawaban Yesus, "Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!". Wah!! Orang itu tentu gemetar, gengs. Pasti kaget dan bahagia saat mengetahui bahwa Anak Manusia yang akan menyelamatkan dunia itu ada di depannya! Dan saat itu juga dia percaya kepada-Nya :) Keren, ya? Tapi itulah yang disebut sebagai iman.


Di sini aku belajar bahwa percuma kita paham betul tentang firman Tuhan, kalo kita nggak bener-bener menghayati siapa yang menjadi Tokoh Utama di dalamnya. Percuma kita paham dan melakukan berbagai rutinitas ibadah, kalo kita nggak bener-bener menghayati makna ibadah itu sendiri. Dear Lord, forgive me if I don't worship You with all of my heart everytime. Forgive me if I still don't do Your words in my life... Let my life be an extraordinary Christian, not because of me, but because of You!

0 comments:

Post a Comment

 

Chocolates of Life Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea