Follow Me @aoifide_artworks

@aoifide_artworks

Monday, February 23, 2015

Dating to Marriage: 'A Lifetime Commitment' (2)

read the 1st part here


Jadiiii ini masuk ke bagian kedua ya, readersss :D


2. Hal-hal BUKAN primer lainnya. TAPI juga punya KONSEKUENSI besar

a. Ras
(bukan bermaksud rasis ya. Tapi kalo misalnya kamu mau jadian sama dia yang rasnya beda, kira-kira keluarga kalian mau menerima nggak?)

b. Status sosial
(well... sama kaya’ di atas sih hehe)

c. Kebiasaan
(dengan perbedaan kebiasaan *kaya’ yang udah aku bahas di bagian pertama, kira-kira kamu tetep mau nerima pasanganmu apa adanya nggak?)


d. Budaya
(Guys, perbedaan kebudayaan itu punya pengaruh yang besar dalam keluargamu dan pasanganmu kelak lho. Kalo kebudayaan yang kalian punya berbeda, siapkah kalian untuk menyesuaikan diri dengan perbedaan itu?)

e. Pendidikan
(Well... bayangkan ada orang yang udah S-3 trus pacaran sama orang yang lulusan SD aja. Kira-kira, bakal nyambung nggak kalo diajak ngomong? ._.)


Pak Petrus bilang... hikmat bersedia menunggu. Ini adalah persoalan yang akan memengaruhi seluruh hidup Anda. And it’s right! Kalo kita salah memilih teman hidup, maka sisa hidup kita akan penuh dengan penyesalan :s Jadi... jangan keburu-buru buat nyari temen hidup ya. Karenaaaa kalo pacaran itu banyak saling menuntut, nanti kalo udah nikah (anggaplah si dia nggak berubah), kita akan dituntut untuk saling menerima! :)


Oya. Berpacaran belumlah menikah, Guys. Memang sih, ada yang nggak boleh dilakukan dalam masa pacaran ini, tapiiii orang-orang yang udah pacaran itu punya ikatan yang khusus dan berbeda dari masa pergaulan. Jadi jangan heran deh kalo di sekitar kita banyak yang sering mojok berdua gitu :p hehe




Vinn, kalo aku udah pacaran... apa yang harus aku lakuin, biar hubunganku nggak jadi batu sandungan buat orang lain?

(Nice question deh :p)



Ada beberapa hal yang harus kita perhatiin nih, kalo mau nge-date :)

1. Tempat yang tepat
--> maksudnya itu gini. Tempat itu adalah tempat yang patut buat dating, nggak nimbulin syak. Dan tempat itu bukanlah tempat yang mendorong pasangan jatuh ke dalam dosa free sex.
(saranku sih... cari tempat yang rame dan bukan tempat yang nggak lazim. Semisal di taman bermain, perpustakaan, tempat makan, taman kota, blablabla... *jiahh, ini pacaran aja belum malah udah ngusul-ngusul gini -.- lol*)


2. Waktu yang tepat
--> Bro and sist *cieh*, kita perlu latihan menghadapi kesendirian lho, baik dari sekarang maupun kalo udah punya pasangan :p

Lhohhhh nanti kalo nggak ada yang jemputin aku dari kuliah trus gimanaa?? Aku udah biasa diantar jemput sama dia nihhh

Ini bukan masalah ‘aku nggak bisa lakuin apa-apa tanpa kamuuu’, bukann! Ini lebih ke masalah frekuensi pertemuan.

Beberapa bulan yang lalu, aku sama temenku sempet ngobrol tentang masalah ini. Kami ngobrol tentang frekuensi pertemuan yang dimiliki pasangan yang kami kenal dekat. Sampe akhirnya, temenku ini nyeletuk,

Kan, bahaya Tab... kalo tiap hari mereka ketemu terus sering sentuh tangan gitu. Saling teasing juga. Nanti kalo kebablasan gimana cobaa?”

Pak Petrus bilang, semakin sering pasangan itu bertemu, keintiman itu semakin bertambah. Wahhh, bahaya banget kan itu?? :O

Makanya itu, sejak masih single *ato kalo udah pacaran*, kita perlu set a rule tentang batasan fisik (khususnya) dan emosi. And there is no compromise! Kenapa? Karena kalo nggak, kita bakal sering mikir, “Ah, kelebihan dikit nggak apa-apa deh...”, dan itu bisa jadi celah si Iblis buat bikin kita jatuh! >.<

Lagipula, kalo kita nggak bisa lepas dari pasangan kita, maunya nempel terus sama si dia, trus kalo suatu saat dia harus pergi *ngelanjutin studi ato kerja, misalnya*, nah, kalian siap nggak? ._.

Kalo menurut aku sih... mending lama nggak ketemu, tapi begitu ketemu.. pertemuan itu jadi berkualitas banget :) Pak Petrus sendiri bilang, “Mutu pertemuan lebih penting daripada kuantitas pertemuan

3. Cara yang Tepat
--> Dan gimana caranya agar selama masa in relationship kita bisa menolong kita untuk mengenali diri kita dan pasangan masing-masing? Well... baca di bawah ini yaa :)

a. Miliki komunikasi
(komunikasi tentang standar hidup pasangan, mengenali gagasan, melatih keterbukaan)

b. Mengenali/mendiskusikan rencana-rencana ke depan
(ingat, tujuan kita mempunyai a relationship adalah untuk menikah :))

c. Saling mengasah dan mempertajam watak
(ketika watak yang satu mulai terlihat tumpul, maka pasangannya harus menolongnya untuk mempertajam wataknya. Saling menopang, saling mengasihi di dalam Kristus... :))



Oke baiklahhh. Tapiii, kira-kira mau ngomongin apa aja ya?


Coba deh, baca di bawah sini :p heheh

1. Rencanakan apa yang mau dicapai
(waktu ngobrol sama pasangan, coba deh ajak dia buat saling kasih tahu strong-weak point yang kita dan mereka punya. Harus terbuka ya :) karena kalo kita terbuka, kita bisa saling menolong untuk jadi semakin serupa dengan Kristus)

2. Kita ada di level mana?
(level di sini maksudnya level ibadah pribadi *saat teduh*, karakter, dll.)

3. Bagaimana kita mencapainya?
(misal, ‘aku akan bantu dia untuk lebih bisa mengatur waktu. Dia akan bantu aku agar aku bisa lebih rajin belajar’. Wkwk)

4. Apa peran masing-masing pihak
(kasih jangka waktu tertentu *misalkan 1 semester*. Jadi setelah 1 semester itu kita lalui dengan perjuangan untuk menjadi pribadi yang lebih baik *eciehciehcieh*, kita bisa lihat, “Oh, aku udah berjuang sejauh ini, udah jadi lebih sabar. Ehmm... tapi dia masih perlu berjuang buat lebih rajin. Nggak apa-apa. Aku akan terus bantu dia! :)”)


Tapi.. gimana kalo udah bertahun-tahun pacaran, karakterku nggak berubah? Karakternya dia tetep sama kaya’ yang dulu. Yang aku tuntut darinya nggak banyak berubah. Lebih baik putus kah, ato tetep lanjutin hubungan ini?


Guyss, sama kaya’ yang udah aku bilang sebelumnya, kalo pun kita menikah dengan pasangan kita ini, bisa aja ada yang nggak berubah. Ato mungkin... jangan-jangan semuanya bertambah buruk ._. jadi, kita perlu siap-siap buat semua kemungkinan yang terjadi setelah kita menikah!


Dan jangan melangkah kalo kita masih ragu-ragu. Beberapa orang sih, bilang kalo mending nggak usah nikah sekalian daripada nikah sama orang yang salah. Karena perceraian bukan hal yang Tuhan inginkan di dalam hidup pasangan yang udah menikah.


Nahhh, kalo udah nikah emang nggak boleh cerai. Tapi kalo masih pacaran gimana??


Well... kalo kita bisa mendasarkan alasan kita memilih untuk putus dengan benar (terutama tentang masalah prinsip hidup), it’s okay. Tapi juga jangan keseringan putus yaaaa. Sering putus itu nggak sehat; track record kita di dalam pacaran bisa jadi batu sandungan. Nggak cuma itu, sering putus nunjukkin kalo kita sebenarnya belum bisa berpikir dengan dewasa :( nunjukkin kalo kita ini terlalu perfeksionis juga.

Nobody is perfect. Yepp, nggak ada seorang pun yang sempurna. Kita sama-sama manusia berdosa yang butuh pertolongan Tuhan untuk bisa mengasihi sesama kita, termasuk pasangan kita. “Marriage demonstrates about His unconditional love for the world”. Yess, pernikahan adalah kesaksian bagi dunia bahwa Allah mengasihi manusia (termasuk kita), walopun kita sering jatuh, sering gagal, sering membuat hati-Nya terluka.

Untuk mereka yang udah menikah... kalo Anda merasa ada yang salah di dalam pernikahan Anda, perbaikilah. Jangan meninggalkan pasangan Anda dan mencari dari awal lagi :)


Okeee... sekian dulu tentang merid-meridnya yaaa. And thanks for reading this post :) Hope it’ll be a blessing!


Berbahagialah mereka yang di dalam pergumulan mengenai pasangan hidup dapat berkata,

“Tuhan, kami memang tidak sempurna. Tapi kami memohon kemurahan-Mu, agar kami dapat saling mengasihi”... and they’re getting married :)

No comments:

Post a Comment