Saturday, May 25, 2013

Danke :)

Edit Posted by with No comments

Klimaksnya kubuat sewaktu ada soal ulangan Bahasa Indonesia XD


Teng! Teng! Teng!


Begitu bel pelajaran selesai dibunyikan, aku segera menghampiri tempat duduk sahabatku. Dia duduk di bangku di pojok kanan belakang, sedangkan aku duduk di kursi terdepan di pojok kanan. Entah kenapa, kami yang biasanya duduk bersama jadi ‘lebih suka’ duduk bersama dengan teman-teman yang lain. Well... Nggak ada salahnya, kan?

Tapi bagiku, sikap Dean sekarang sudah kelewatan. Dia pernah berkata padaku bahwa aku bukan siapa-siapa baginya. Bahkan bukan sahabatnya.


Oh, dear! Sahabat macam apa dia itu?!


Oke. Aku memang bukan pacarnya. Kami malah sudah bersahabat sejak berada di Taman Kanak-Kanak! Kenapa dia tega banget, sih, merusak persahabatan kami selama ini?!


Baik. Sekarang aku sudah berada di depan mejanya. Dan saat aku akan membuka mulutku, Dean sudah bersuara duluan,


“Aku sudah bilang, kan? Yang salah itu aku, bukan kamu.”

Aku terdiam. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berkata lagi, “Harusnya aku yang minta maaf ke kamu. Kamu sama sekali nggak bersalah!”

“Tapi kelakuanmu itu yang nggak masuk akal buatku, Dean!” aku memprotes kata-kata sahabatku itu.

Dean mengangkat bahu. “Aku merasa bahwa kamu sudah terlalu ikut campur dalam urusan pribadiku,” jawabnya. Dan itu membuatku semakin syok.

“Oke, anggaplah aku bukan siapa-siapamu. Terserah kamu, Dean. Tapi bagiku, kamu tetaplah sahabatku. Kamu tetaplah saudaraku,” aku berkata sambil membalikkan badan, dan pergi dari hadapannya.



Bukan cuma sekali ini saja aku bertengkar dengan Dean. Dalam seminggu, bisa saja kami bertengkar selama beberapa hari. Lalu berbaikan lagi. Bertengkar lagi. Berbaikan lagi. Seolah-olah hal itu sudah seperti siklus kehidupan saja.


Pernah suatu saat aku mengajaknya ngobrol tentang pelajaran yang baru saja kami pelajari, tapi dia cuma bilang, “Oh, gitu.”, “Hm.”, “Terus?”. Sebel nggak sih, kalau jawaban dari cerita panjang lebarmu hanyalah sebanyak dua-tiga kata itu?



Dan rasanya mulut ini pengen nyampah aja. Serius. Err... -___-


Christo melihatku pulang dalam keadaan yang tidak biasanya (bisa dilihat dari tatapan matanya yang nggak biasa). Dan dia langsung bertanya tanpa basa-basi,


“Kamu kenapa, Fan? Kok, kusut gitu?”

Aku tidak menjawab, merebahkan badanku yang lelah ini ke sofa di ruang keluarga. Dan badanku serasa mau remuk semua. Serba salah. Great.

“Fanny, kenapa pertanyaanku nggak kamu jawab, sih?”


Dan Christo masih (berusaha) mencecarku dengan pertanyaan. Dan kepalaku semakin pusing. Dan... Rasanya tingkat kesabaranku sudah semakin menipis.


“Christo! Tolong jangan cecar aku dengan pertanyaanmu! Aku capek! Aku ada masalah! Tolong jangan tambahi kepalaku dengan pertanyaan nggak pentingmu itu!!” aku berteriak pada Christo.


Sedetik kemudian, aku tersadar dengan kata-kataku yang (kelewat) keras. Sedangkan Christo terdiam. Entah karena dia yang merasa bersalah, atau karena dia sedang memendam emosinya.


“Ayo, Fanny. Ikut aku,” katanya sambil menarik tanganku. Aku sempat protes padanya, tapi dia tidak menggubrisnya.


Setelah mengambil tas di ruang tamu, ia mengajakku ke kafe yang ada di dekat rumah. Kafe yang dulu sering kudatangi bersama Dean. Kenapa Christo mengajakku ke sini? batinku semakin kesal.

Seorang pelayan menyambut kami, dan mengantar kami untuk duduk di bangku di dekat jendela. Air mancur di dekatnya (anehnya) membuatku merasa sedikit tenang. Ingat. Hanya sedikit. Tidak sepenuhnya.

Dan seperti biasa, kata-kataku akan kedengaran sangat tidak bermutu jika sedang bete. Seperti sekarang ini,


“Kata orang, kalau lagi bete, lebih baik makan yang manis-manis aja. Atau coklat. Ehm, aku mau cappuccino latte sama es krim coklat,” kataku.

Christo (sebenarnya) ingin saja mengacak-acak rambutku, kalau saja ia tidak melihat tatapan mataku yang berkata, “Jangan ngomong macam-macam. Adikmu ini lagi bad mood.”

“Ehm, oke, Dik. Kamu menang, deh,” Christo nyengir kecil, lalu berkata pada si pelayan,

“Aku pesan caffee latte saja.”

Setelah si pelayan itu pergi, Christo berpindah tempat duduk. Pertamanya dia duduk di seberangku, tapi sekarang dia duduk di sebelahku. Semakin lama, dia membuatku semakin tersudut. Dan aku nggak suka ini.


“Jadi, kenapa kamu mengajakku ke sini?” tanyaku, menyelipkan nada sarkatis di dalamnya.

Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah balik bertanya, “Seharusnya aku yang bertanya padamu, Fanny. Kamu ini kenapa?”

Aku memalingkan muka darinya. “Bukan urusanmu.”

 “Kalau kamu sedih begini, aku juga jadi kepikiran.” Kata-kata Christo itu mulai bisa menjebol bendungan emosiku. Dan dia memegang bahuku, sehingga aku menyerah padanya.


“Ini tentang Dean lagi.”

Christo melihatku dengan tatapan seorang-kakak-yang-sedang-mendengarkan-cerita-adiknya. Dan itu membuatku semakin teringat dengan Dean. Aku jadi salah tingkah di hadapannya.

“Ceritakan sebisamu saja, Fan,” Christo berkata sambil tersenyum kecil.


Aku menarik nafas, lalu mulai bercerita.

“Dean kembali jadi seperti sebulan yang lalu, Chris. Dalam seminggu kami bisa bertengkar berulang kali, hanya karena masalah sepele. Dan semakin lama, persahabatan kami semakin konyol saja. Kami pernah duduk bersama beberapa kali, tapi setelah itu kami bertengkar lagi.”

Christo mengangguk-angguk kecil. Tuhan, aku seperti merasa bahwa Dean ada di depanku sekarang.

“Dia pernah marah-marah padaku karena aku nggak membawa tugas kelompok kami. Padahal, jelas-jelas yang dimintai tolong olehnya bukan aku,” lanjutku.


Dan aku bisa merasakan, air mataku mulai mengintip.


“Aku nggak tahu harus bagaimana lagi dengan persahabatan kami, Christo. Setiap ada masalah, dia pasti menyalahkanku. Padahal, jelas-jelas dia yang salah,” aku berkata pelan, mencoba menahan air mataku.

Tapi sialnya, air mata ini semakin deras, dan Christo melihatnya. Ia mengambil tisu dari tasnya, dan mengusap air mataku.

“Tenanglah, Fan,” katanya menenangkanku, “semuanya akan baik-baik saja.”

Aku memandangi wajah kakakku itu – seolah-olah meminta penjelasan darinya. Tapi dia hanya tersenyum dan berkata,

“Percayalah padaku.”



Si pelayan datang ke meja kami, dan menyajikan pesanan kami. Setelah itu, ia pergi ke meja lain.


“Fanny, jangan nangis begitu dong. Aku tahu kalau adikku bukan anak cengeng, ya kan?” Christo berkata padaku sambil menggenggam tanganku. Dia menyodorkan minumanku.

Aku meminum cappuccino latte­-ku dalam diam. Entah sudah berapa kali Christo menghiburku dengan cara yang bermacam-macam, tapi ini pertama kalinya dia mengajakku ke kafe ini hanya untuk membuat perasaanku jadi lebih baik.

“Lalu aku harus bagaimana?” aku bertanya padanya.

Christo meminum caffe latte-nya, lalu berkata, “Katakan apa yang kamu inginkan kepada Tuhan. Doakan itu sungguh-sungguh. Jangan mencari celah untuk  bermusuhan dengannya. Dan jangan lupa. Ampuni dia, sama seperti Tuhan telah mengampunimu.”

“Tapi itu sulit, Christo. Aku sudah mencoba untuk mengampuni dia berulang kali, tapi efeknya tetap nggak kerasa!” aku mengeluh, dan kembali mendengarkan gemericik air mancur di dekatku.

Christo menepuk bahuku, lalu aku menoleh ke arahnya. Dia berkata dengan pelan, tapi aku bisa mendengar suaranya di tengah-tengah kebisingan kafe ini,

“Fanny, aku pernah bilang kalau ‘Nggak ada salahnya untuk mencoba’, kan? Cobalah untuk mengampuni Dean berdasarkan kasih Kristus. Jangan memakai kekuatanmu sendiri. Kamu nggak akan kuat melepaskan pengampunan itu, kalau kamu masih ngotot untuk mengampuninya dengan kekuatanmu sendiri.”



Tes pertama hari ini = Fisika dan Sejarah.


Aku mencari Dean di sekitar sekolah. Nihil. Dia belum datang.

“Fanny! Kamu cari siapa sih?” tanya seorang temanku saat aku kembali ke depan ruang tes.

“Hehe... Mencari temanku, kok,” aku menjawabnya. Dan kembali belajar Fisika.


Dean datang, tepat 5 menit sebelum bel masuk dibunyikan.

“Dean, aku ingin bicara denganmu.”

Aku berkata padanya dengan tegas. Tidak memohon padanya untuk tetap bersahabat denganku. Tidak memelas padanya untuk tetap jadi kakakku. Tidak.


“Aku cuma ingin bilang terima kasih. Terima kasih, karena kamu telah mengisi hari-hariku selama ini. Terima kasih, karena kamu telah mengajarkan banyak hal padaku. Terima kasih, karena kamu telah mau menjadi seorang sahabatku. Dan, aku minta maaf jika selama ini ada sikapku yang mungkin membuatmu sebal padaku.

Jujur, Dean... Aku pernah membencimu. Tapi kakakku bilang supaya aku bisa mengampunimu. Setiap malam, aku berdoa kepada Tuhan, agar aku tidak membencimu. Aku berdoa kepada-Nya, agar setiap hari aku tetap dapat mengasihimu.”


Setelah aku berkata seperti itu, Dean berkata padaku,

“Fanny, aku minta maaf padamu karena sikapku belakangan ini telah menyakiti hatimu. Aku tahu kalau sikapku ini nggak wajar, tapi memang akhir-akhir ini aku sedang dilanda banyak masalah...”


“Kenapa kamu nggak cerita sama aku?” aku bertanya padanya.

Dean berbisik, “Karena aku nggak mau kamu mendapat masalah setelah kamu tahu apa yang sedang kuhadapi.”

Aku mendesah pelan, lalu berkata lagi, “Siapa tahu aku bisa bantu kamu... Tapi sudahlah. Kalau kamu memang nggak mau bercerita padaku juga nggak apa-apa kok.”

Ketika aku berjalan masuk ke kelas, Dean menarik tanganku.

“Setelah tes nanti, aku akan bercerita padamu. Dan jangan khawatir, aku melakukannya karena aku memang ingin melakukannya.”


Setelah dia menaruh tasnya di dekat meja guru, dia tersenyum ke arahku. Dan dia (kelihatan) siap untuk menjalani tes hari ini.


Danke, Christo. Setidaknya persahabatan kami akan pulih sebentar lagi. Semoga.

0 comments:

Post a Comment