Friday, January 6, 2012

A Worthed Waiting (2)

Edit Posted by with No comments
"Wah, maaf! Aku telat!"

Aku langsung duduk di depan Kak Fuyuki yang (mungkin) heran dengan sikapku.


Hari Sabtu, jam 10 pagi, Mocca and Espresso Cafe


Oke, setelah kemarin malam aku memberitahu waktu untuk ngobrol, kami berdua akhirnya bisa duduk berhadapan di kafe ini.

"Kamu mau pesan apa? Biar aku yang traktir," kata Kak Fuyuki sambil membaca menu.


Berhubung sekarang aku lagi suka sama yang namanya cafee latte, akhirnya aku memesan minuman itu, dan donat serba coklat (saya, kan coklat mania :D)

Setelah 15 menit berlalu, akhirnya pesanan kami datang juga.

"Hore~!!" aku berseru kegirangan sambil tersenyum senang.

Kak Fuyuki tersenyum, "Akane suka coklat, kan?" tebaknya. Aku mengangguk senang sambil mulai melahap (eh, menikmati) donat-donat itu.

Sambil menyeruput espresso-nya, dia berkata, "Kamu mirip banget sama adikku. Dia juga suka coklat. Padahal, aku malah nggak suka coklat sama sekali."

"Oh, begitu. Jadi, sebenarnya apa yang mau Kak Fuyuki bicarakan?" tanyaku.


...


Suasana hening seketika.


"Eh, ngg... itu, aku ingin bertanya. Apa kamu masih ingat dengan yang namanya Wataru?" tanyanya.

Aku memiringkan kepala, "Wataru siapa, sih?" tanyaku.

"Wataru Yoshida," jawab Kak Fuyuki.




GLEGAR



Dialah kakakku. Wataru Yoshida.


Aku mengangguk kecil, "Iya. Memangnya kenapa? Kamu temannya? Sahabatnya? Atau orang yang meminjamkan rumah untuk ditinggalinya?!" berondongku sambil setengah panik. Yah, aku masih ingin bertemu dengannya. Harus kuakui...


Kak Fuyuki tertawa kecil. "Ya, nggak seperti itu, sih. Hehe~ Kalau misalkan dia adalah aku?"





APA?



"Kak Fuyuki adalah Kak Wataru?" tanyaku tak percaya. Dia mengangguk.


Aku menggeleng kuat - kuat. "Nggak mungkin :P Kak Wataru bukan tipe orang yang suka jadi pemimpin seperti Kak Fuyuki," kataku.


Kak Fuyuki menggeleng, "Nggak. Ini benar - benar aku, Akane. Aku Wataru, kakak kandungmu. Apa, sih yang bisa jadi bukti bahwa aku memang kakakmu?" keluhnya.



Aku berdiri, dan menggeberak meja.



"Dengar, ya. Tolong jangan bicarakan hal ini! Aku nggak mau buang - buang waktu untuk memikirkan orang yang telah menyakiti orang tuaku! Lebih baik aku ikut bible class atau hiking saja," kataku sambil kembali duduk.


Kak Fuyuki (atau Kak Wataru?) menggenggam gelasnya. "Yah, oke. Terserah kamu saja, deh :O" katanya sambil kembali meminum kopinya. Kemudian, dia membayar pesanan kami di kasir. Ketika kulihat, wajahnya tampak kecewa. Apa itu gara - gara aku?


"Ayo Akane. Sekarang kamu mau ke mana?" tanya Kak Fuyuki sambil mengajakku keluar.

Aku mengedarkan pandanganku ke lantai teratas. "Ke toko kaset!" Jadilah kami berdua naik eskalator, dan pergi ke toko kaset.



-0o0-


Seorang wanita berusia 20-an menyambut kami. "Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?"


Aku menjawab, "Aku ingin mendengarkan lagu Above All'nya Michael W. Smith. Boleh?"

Si wanita menunjukkan letak kaset yang kumaksud. Kemudian, aku membawa CD itu ke VCD Player. Sementara itu, Kak Fuyuki melihat - lihat ke arah pajangan kaset.



ABOVE ALL POWERS, ABOVE ALL KINGS
ABOVE ALL NATURE AND ALL CREATED THINGS
ABOVE ALL WISDOM AND ALL THE WAYS OF MAN
YOU WERE HERE BEFORE THE WORLD BEGAN

ABOVE ALL KINGDOMS, ABOVE ALL THRONES
ABOVE ALL WONDERS THE WORLD HAS EVER KNOWN
ABOVE ALL WEALTH AND TREASURES OF THE EARTH
THERE'S NO WAY TO MEASURE WHAT YOU'RE WORTH

CRUCIFIED, LAID BEHIND THE STONE
YOU LIVED TO DIE, REJECTED AND ALONE
LIKE A ROSE, TRAMPLED ON THE GROUND
YOU TOOK THE FALL, AND THOUGHT OF ME
ABOVE ALL


Oke, ini lagu favoritku sejak dulu. Saat Kak Wataru masih ada di rumah, dan sering mengajakku ke taman di dekat rumah.


"Akane?" Kak Fuyuki membuyarkan lamunanku (Oh, bagus)


"Ayo kita pulang." Dia mengajakku keluar toko.


-0o0-

0 comments:

Post a Comment