Monday, September 7, 2015

Welcome Home

Posted by Tabita Davinia at Monday, September 07, 2015

Setelah melewati masa ospek dan adaptasi kuliah selama (kurang lebih) 2 minggu, akhirnya bisa nulis di blog lagi :p hehe



***



Home is a place where heart stays on.




Pernah dengar quote yang (kurang lebih) seperti itu? Aku lupa sih, persisnya gimana :p tapi quote itu bener banget (y).

FYI, sekarang aku udah jadi mahasiswa ye :p (trus ngapain coba? Ha!). Banyak banget perubahan dari SMA ke kuliah, termasuk soal belajar. Sensasinya kerasa banget. Aku (yang biasanya lebih suka) kerja secara individu, mau nggak mau sekarang harus bisa lebih menyesuaikan diri sama temen-temen (dari berbagai latar belakang dan perbedaan yang ada). Thanks God, temen-temenku baik-baik semua :) bisa saling bantu, jadi temen curhat, temen main (kemarin sempet ke Jogja-Japan Week :D lumayan lah, cuci mata dikit :p), temen berangkat-pulang kuliah (sama-sama naik sepeda) hehe...


Kadang kangen juga sih sama suasana sekolah dulu, rame-ramenya, ngobrol bareng temen-temen sekelas sama Rokris... nggak cuma itu, aku juga kangen sama gerejaku :’’ walopun masih bisa PP (pulang-pergi) Jogja-Solo, tapi entah kenapa rasanya kok yang namanya PP itu susah banget. Banyak tugas. Bikin mager buat pulang hiks #galau #kangensamaRemPemCo


Nah, kemarin Rabu  (2 September), ada persekutuan doa di PMK fakultas. Seru dan kocak gitu haha. Nyanyi-nyanyi, ketawa, main game, dan ngerenungin firman bareng mereka juga :) Bersyukur banget bisa punya komunitas yang nolongin aku buat nggak terlalu gundah gulana sama rumah. Hehe.


Di persekutuan doa itu, Kak Bella (ketua PMK) sharing tentang apa bedanya house dan home, plus njelasin gimana caranya buat bisa bikin suasana home di lingkungan sekitar kita. 


Sharing itu dimulai dengan satu pertanyaan: Apa bedanya house dan home? Padahal artinya kan, sama-sama rumah!


Bedanya adalah:

House berarti bangunan yang terdiri dari pondasi, dinding, atap, dan bagian-bagian lainnya. Intinya, house lebih mengarah pada bentuk fisik.
Sedangkan home berarti suasana kekeluargaan yang ada di sekitar kita. Nggak jarang kan, kalo kita bisa nemuin home di gereja, persekutuan/komunitas kita? Bukan cuma rumah aja lho, yang bisa punya suasana itu :)


Nah, sekarang... gimana sih, caranya biar kita bisa merasakan suasana at home di mana pun kita berada?

1. GOD THE FOUNDATION
Jadikan Tuhan Yesus sebagai pondasi kehidupan kita. When we put Him as the foundation of our community, pergumulan apapun bisa kita lalui bersama. Ketika kita merasa sedih, kecewa, bahkan depresi, saudara-saudari seiman kita bisa menolong kita untuk berjuang bersama di dalam menghadapi situasi yang sulit itu. Itu bisa terjadi kalau Bapa menjadi pondasi our home :) (Yesaya 28:1)

2. BUILDER AND WATCHER
Inget perumpamaannya Tuhan Yesus nggak, tentang dua rumah yang didirikan di atas batu dan pasir? Rumah mana yang bisa bertahan saat diterpa ombak besar? Rumah yang didirikan di atas batu, kan? (Matius 7:24-27)
Tuhan Yesus jugalah yang mengawal hati kita untuk tetap hidup sesuai firman-Nya. Kalau kita membangun dan menjaga hati kita sendirian... percaya deh, pasti rasanya susah banget buat tetap bertahan. Hati kita akan seperti rumah yang didirikan di atas pasir, dan bisa rusak dalam sekejap mata (Mazmur 127:1)


3. UNITED IN GOD 
Dipersatukan dalam kasih Tuhan adalah salah satu anugerah dalam hidupku :) Di kampus, aku punya FaPsi 2015, PMK FaPsi, dan UKK sebagai keluarga baru. Seneng deh, bisa ketawa, cerita, nyuwung bersama :p hehe
Kalo bukan Tuhan yang mempersatukan kami, pasti susah buat bisa bikin home di 3 komunitas itu. Selama di Solo juga, aku juga punya RemPemCo sebagai keluarga yang bener-bener bikin aku feel at home. Aku bisa nemuin kasih Tuhan di dalam komunitas itu :)
Yep, selain sebagai pembangun, pondasi, dan penjaga, Tuhan jugalah yang mempersatukan kita di dalam tubuh Kristus (1 Korintus 12:12). Aku yakin, di setiap komunitas mungkin ada yang namanya konflik, kekecewaan, bahkan dendam. Tapi ingat. Nggak ada manusia yang sempurna, termasuk kita. Yang bisa kita lakukan adalah menerima dan mengasihi orang lain apa adanya. Karena Tuhan Yesus pun juga melakukan hal yang sama kepada kita :)

4. DWELLING PEACE
Tuhan Yesus juga menjadi tempat perlindungan kita, tempat di mana kita merasa tentram. Saat tidak ada seorang pun yang mau peduli terhadap kondisi kita, Dia tetap ada bersama dengan kita. Because He is Immanuel, which means ‘God is with us’. Ketika komunitas kita sungguh-sungguh mau hidup di dalam firman-Nya, Dia pun akan selalu menuntun langkah kita sampai rencana-Nya tergenapi :) (Mazmur 90:1-2)


Memang nggak mudah sih, buat jadi tempat di mana kamu bisa mendengarkan curhatan, menguatkan, mendoakan, dan menegur orang lain. But it doesn’t matter. Selama kita memiliki hati yang sama seperti yang Kristus miliki, kita pun akan dimampukan untuk mengasihi orang lain lebih dan lebih lagi :) hehe.


So... are you ready to be a home for others? :)

0 comments:

Post a Comment

 

Chocolates of Life Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea