Follow Me @aoifide_artworks

@aoifide_artworks

Behind the Scene

The taste of life is like a chocolate. The "chocolate" will be more tasteful when you get the fruit of Spirit in it.



Judul blognya aku ganti lagi (dulu judulnya ‘Faith, Hope, and Love’. Sebelumnya lagi 'Journal of Me') :$ maafkan ya, aku masih labil sih hehe. Anyway, 'Chocolates of Life' itu aku pilih karena 2 alasan:

1. Aku suka (banget) coklat
Well... selain rasanya yang enak, menurut ilmu psikologi *ciehh*, coklat punya zat yang bisa membuat orang yang awalnya baru bad mood jadi good mood. And I’ve (and maybe always :p) proved it! Haha.

2. Quote di atas (yang ‘Life is blablabla’ itu)
Kita semua pasti mengalami berbagai hal, sejak dari lahir sampai saat ini. Entah itu hal yang menyenangkan, mengharukan, menyedihkan, bahkan mengecewakan. Kalo diibaratkan dengan coklat, rasanya manis dan asam (mungkin ada yang asin? Entahlah :p wkwkwk). Campur aduk gitu kan? Tapi lihat deh, hidup kita akan jadi berwarna dengan ‘rasa-rasa’ itu :)


Alasan kedualah yang menjadi alasan utamaku mengganti judul blogku. Dan kuharap, judul baru ini nggak ganti lagi (ha!). Yes, Tuhan udah tulisin cerita kehidupanku sampai detik ini, dan bersyukur ada banyaaaaaakkkkk hal yang terjadi, dan nggak sedikit yang membuatku speechless :p hehe. God is good all the time. When He puts you somewhere, He will be with you always :)


--**--


Oke, itu tadi soal nama blog, ya. Tapi omong-omong, ada yang tahu nggak, sejak kapan dan kenapa aku doyan nulis sampe sekarang? :p

BEWARE: Bagian ini bakal panjang banget. Scroll ke bawah langsung aja kalo nggak mau baca wkwk.


Aku mulai suka nulis sejak kelas 5 SD (!!), gara-gara baca karangan yang ditulis sama cece sepupuku (dia kelas 6 SD waktu itu). Aku mikir, "Waw, kok bagus. Pengen nulis kaya' gini jugaa." Jadilah aku nulis di buku tulis karangan yang (bisa-bisanya) mirip sama punyanya dia. Tapi lama-lama, ceritaku jadi ngaco banget! WAHAHAHA. Sebenernya udah sampe nulis di buku kedua, kann. Udah lumayan banyak gitu. Mungkin dua atau tiga bab. EH, HALAMANNYA KUSOBEK DAN KUBUANG. Bener deh, kata mamaku waktu tahu aku buang itu kertas, "Nanti nyesel, lho." Ga cuma di cerita yang itu; di cerita yang lain aku juga ngelakuin hal yang sama. DAN AKU NYESEL HEHEU. Oya, maaf ini capslock mulu wkwkwk.

Then, aku masuk kelas 1 SMP dan ketemu sama beberapa orang temen yang juga doyan nulis dan ngomen (macam novelis terkenal lol). Aku tambah suka nulis gara-gara ada guru bahasa Indonesiaku yang terus mendorong murid-muridnya buat mengungkapkan ide mereka lewat tulisan (entah cerpen, puisi, dll.). Dan yang bikin aku tambah mantep, guruku itu juga mengapresiasi tulisan kami :) Beliau bahkan membuat kumpulan cerita dari guru-guru favorit yang kami buat (melalui semacam seleksi), dan (praise the Lord) punyaku masuk :) kaya'nya tulisanku itu paling panjang deh HAHA! 

Di SMA, aku juga punya sahabat (sampe sekarang) yang juga suka nulis (tapi dia doyannya nulis detektif-misteri gitu). Kami suka saling kasih komentar. Jadi tambah suka nulis karena dukungannya banyak :) Syukur pada Tuhan yang mengirimkan banyak orang untuk meneguhkan panggilan-Nya padaku untuk melayani di bidang literatur. Dan karena kasih karunia-Nya, aku bisa melayani di Pearl Magazine (kalian bisa baca cerita selengkapnya di sini).


"Pernah ngerasa minder sama tulisan sendiri ga?"

Pernah. Aku yakin, hampir semua penulis (baik amatir maupun profesional sekalipun) di awal debut*cie*-nya sebagai penulis pernah minder kalo:
1. tulisannya dianggep jelek dan nggak bermutu
2. tulisannya nggak dibaca
3. tulisannya nggak menang lomba, apalagi kalo udah ngambis menang
4. kebanyakan typo terus diomeli yang baca (apalagi kalo yang baca kaya' aku yang perfeksionis haha bercanda)
5. kebanyakan emot terus diomeli yang baca

*nganu sih, nomor 4 dan 5 itu aku yang ngomeli biasanya. Duh. Maaf gaes, saya khilaf :")


Dengan lima alasan di atas, kalo cuma ngandalin kekuatan dan pikiranku doang, aku nggak mau nulis panjang lebar dan terlalu banyak di mana-mana. Ogah, lah. Udah nggak dibayar, nggak diapresiasi orang. Ngapain coba capek-capek mikir ide tulisan? Mending ngerjain tugas. Paling juga dapetnya nilai. At least menghasilkan sesuatu gitu lhoo. Ya nggak?

Duh, kalo aku mikir kaya' gitu zaman dulu, aku nggak akan jadi kaya' sekarang, gaes.

Itulah kekuatan Roh Kudus :) Dia yang memampukan dan menggerakkan hati, pikiran, dan tanganku untuk menulis bagi kemuliaan Tuhan. Walopun yang ngelike dikit, yang ngeshare juga nggak ada, tapi seenggaknya aku belajar buat mengapresiasi tulisanku sendiri. Karena kalo bukan diri sendiri (dan Tuhan, tentunya), siapa yang akan mengapresiasi tulisan kita--apalagi kalo kita udah mencurahkan daya dan pikiran buat menghasilkan tulisan yang (menurut kita) bermutu?

Tapi bukan berarti kita bisa jadi sombong :p Namanya juga perlu latihan, dukungan, dan jam terbang yang tinggi. Nggak cuma psikolog yang butuh jam terbang banyak. Aku pribadi lebih suka nulis di blog karena enak bacanya. Kalo pengen nostalgia, tinggal scroll aja wkwkwk. Kalo nulis di Line ato FB, males ugha nge-scroll-nya :p Nulis di story IG ato WA juga harus di-screenshot biar kesimpen (itupun kalo juga ke-back up). Jadi yaaa enakan nulis di sini.


"Trus awalnya nulis apa, ya? Aku bingung ee."

Tulis apapun yang kita mau :) Mau cerita kek, artikel ala ala, kek. Bebas. Selama nggak melanggar aturan, moral, dan nilai kebenaran, kita bebas nulis, kok. Oya, tambahan. Kalo nulisnya pake ngutip-ngutip gitu, pake referensi di bawah tulisan, ya. Pake sitasi juga sangat dihimbau (biar kaya' makalah). Kalo udah tahu tata aturan nulis yang bener, nggak ada salahnya buat menjadi trendsetter tulisan yang baik, kan? :)


"Duh, tapi aku tetep ae minder! Tulisanku nggak sebagus J. K. Rowling, Ilana Tan, Winna Effendi, R. C. Sproul (oiya, ini mah berat), John Piper, blablabla~"

Lha setiap orang juga punya style nulisnya masing-masing, lho :( Nggak ada yang mewajibkan seorang penulis menirukan style penulis wow lainnya. Everyone has their own colour, so choose yours. Aku lebih suka nulis soal Kekristenan, psikologi, anak muda, relationship, dan bahasanya nggak spaneng. Beda sama penulis lain yang pake bahasa yang lebih berat. Background tiap penulis juga beda. Jadi ya gitu. Nggak bisa dipaksa dan memaksakan diri.


Kalo baca tulisanku sejak tahun 2011, temen-temen bisa lihat perbedaannya, kok :p Dulu tulisanku sooooo abstrak. Ga mengikuti kaidah penulisan yang baik dan benar (halah). Tapi sekarang udah tobat, kok. Sejak masuk kuliah, aku belajar buat jadi orang yang perfeksionis karena geli sama typo dan sering dikoreksi sama orang-orang yang baca tulisanku (dan laprak). Mana semester depan udah mau skripsi. Yapsss, I'm blessed to bless :) I'm not called to imprese, but inspire the people. Mau seberapa banyak yang baca, komen, share, komplain (wkwk), tetep harus disyukuri :))
And somehow aku kangen
Hamtaro


Oya satu lagi *halah paansi wkwk*. Down to earth. Tetep jadi orang yang rendah hati. Kalo kata Kak Febe Frisela, "Kalo dipuji, terima kasih. Kalo ditegur, terima kasih banyak." :)


Okayyy. I think it’s enough to describe the blog, isn’t it? :p hahaha. So please kindly give a comment, biar aku tahu kalo ada yang baca blog (yang udah hampir lumuten) ini wkwkwk.  Ato kalo ada yang mau di-sharing-kan, bisa langsung e-mail ke eunike_vinia4697@gmail.com ato agnestabita_senamaria@yahoo.com. Mungkin bisa kenalan juga *tsahh *paansih wakakakaka :D lol! So, selamat ber-blog walking ria, yakkk. Tuhan memberkati! ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar