Follow Me @aoifideco

@aoifideco

Selasa, 24 Februari 2015

Learning (more) from the Children

Selasa, Februari 24, 2015 0 Comments
A few days ago, C’ Marcella wrote this:


“After telling a story about Heaven to Jasline (well, she opened a day care for her ministry at her home)...


Me: Do you want to go to Heaven?

J: Yes!

Me: Do you believe in Jesus?

J: Yes!

Me: What do you want to do when you see Jesus?

J: Play!

Me: What do you want to play with Jesus?

J: Hide and seek!”


--**--


I love the kiddos.
Ceritanya bareng-bareng
main CTA (Cerdas Tangkas
Alkitab) wkwk
#Happy Day #Sunday School


Haha, kesannya kaya’ aku udah jadi mama-mama (ato tante-tante? #pok) aja :p lol. But that’s what I feel. Aku suka anak-anak. Dan ada banyak alasan kenapa bisa begitu :) salah satu alasan terbesarnya adalah... karena mereka mengajariku banyak hal.


“Ngajarin banyak hal ke kamu?? Nggak salah nih??”


Nope. It’s true kok. Walopun mereka lebih muda belasan tahun dariku *secara aku sebentar lagi udah 18 tahun. Duh, mau kepala duaa~*, tapi tanpa mereka sadari, aku belajar banyak dari mereka.



2 hal terpenting yang mereka ajarkan ke aku ada:


a. Believing and Trusting

Aku heran sih, kenapa anak-anak bisa lebih gampang percaya sama orang lain, sementara orang dewasa nggak segampang itu buat ngelakuin hal yang sama.

Entah karena faktor umur, ato karena tingkat kepercayaan semakin berkurang *apalagi zaman sekarang banyak orang yang suka nyalahgunain kepercayaan orang lain*, I dunno. Tapi ini yang anak-anak ajarin ke aku. Mereka (secara nggak langsung) ngajarin aku buat tetep percaya sama Tuhan, tetep beriman pada Dia.

Beberapa hari yang lalu, aku SaTe tentang iman anak kecil. Jadi ceritanya, anak kecil itu kehilangan bolanya di rumah. Semua orang di rumah padha nyariin bola itu. Anak itu berdoa,’Tuhan, tolong temukan bolaku’. And you know what? Keesokan harinya, bolanya ada di halaman rumah :O padahal semuanya udah nyari bola itu sampe ke mana-mana lho! Contoh lainnya, kalian bisa baca conversation antara C’ Marcella sama Jasline :D


Di situ Tuhan ingetin aku, bahwa Dia selalu dengerin apapun yang jadi pergumulanku selama ini. Bayangin coba, doa ‘Tuhan, tolong temukan bolaku’ itu aja Dia dengerin *well... namanya juga ilustrasi sih. Tapi aku percaya kok, bisa aja itu terjadi*. Doa anak kecil aja *yang seringkali kita anggap sepele* Dia dengerin, apalagi doa orang dewasa (termasuk kita kah?) yang punya segudang masalah serius!



Sometimes your plans don’t work out, because God has better ones.


Pertama kali aku baca statement itu, entah kenapa aku jadi inget waktu aku mau masuk SMA. Well, aku sempet kecewa awalnya, karena aku nggak masuk program akselerasi di SMA-ku yang sekarang. Walopun aku cuma masuk ke program reguler *yang dulu sempat jadi RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional)*, aku bersyukur karena Dia pertemukan aku dengan banyak orang yang luar biasa *dan punya karakter-karakter ‘unik’ :p*.



Statement itu juga yang ingetin aku buat tetep percaya sama Tuhan, keeping my faith in Him. Walopun apa yang Tuhan mau sering nggak sesuai sama yang aku mau, tapi Tuhan sering kasih aku surprise yang nggak pernah aku sangka :) *namanya surprise mah siapa juga yang tahu selain yang ngasih kok ya hahaha XD*




b. Forgiveness

Pernah liat anak-anak berantem? Kira-kira, alasan mereka berantem itu apa coba?

Pasti banyak yang bilang gara-gara mainan :p *sok PD haha*. Tapi nggak cuma itu doang sih sebenernya. Kadang anak-anak berantem gara-gara nggak mau berbagi juga *berbagi makanan, misalnya*. Mereka kadang bisa berantem kalo ngerasa temen mereka direbut sama yang lain.


True story ya ini... dulu waktu aku kecil kan, sering main sama tetanggaku. Nah, pernah tuh, kami berantem *alesannya apa aku lupa sih, tapi kaya’nya nggak mutu kok #lhoh :v*. Sampe ada salah satu tetanggaku itu yang bilang, “Ah, koe dudu balaku (Ah, kamu bukan temenku–bhs. Jawa)”. Tapi kalo masalahnya udah selesai, setelah kita minta maaf, kita tetep main bareng lagi :) *duh, miss my childhood so much, when the most difficult thing is just about Mathematics #malahcurhat wkwk*

Karena mereka berharga.. :)
#The Greatest Gift #throwback #2014
#Christmas with orphanage at Seribu Pulau Orphanage

Tapi kalo orang-orang udah padha gedhe *jadi dewasa*... wah, masalah sepele kadang bisa jadi masalah besar! >.< mutung-mutungan *semacam diem-dieman gitu*, nggak chattingan berhari-hari, kalo ketemu rasanya pengen menghindar, dan yang lebih parah... malah ngajak orang lain buat ikutan musuhin orang itu -_- *udah banyak dapet cerita kaya’ gitu soalnya #duh*

Guys and gals, salah satu hal yang membedakan anak-anak dan orang dewasa adalah tentang pengampunan. Children can forgive others easily, but some adults feels so difficult to do the same thing. Buktinya udah kalian baca tadi :p


With Gloria! :)
#throwback #2014
*same caption as the previous
picture*

Nah, bukankah harusnya kita, yang udah (ngerasa) jadi orang dewasa, ngerasa malu kalo nggak bisa mengampuni orang-orang yang udah ngelukain hati kita?




“But it’s too difficult, Vin! You don’t understand!”



Oya, aku emang nggak tahu seberapa besar rasa kecewamu, luka di hatimu, dan berapa banyak air mata yang udah kamu keluarin buat nahan perasaan geregeten-sama-orang-yang-udah-ngelukain-kamu itu. But you know what? God knows it, even you’d never told it to Him... He knows every language of the tears. He knows how painful your heart is. He knows that it’s too difficult for you to forgive those whom have hurt your heart.


Bro and sist, serahin semua luka di hatimu buat Tuhan pulihkan. Berdoalah agar Dia memberikan hati yang baru kepadamu, agar kamu lebih bisa mengampuni dan mengasihi orang-orang itu :)


Aku dulu juga nggak bisa mengampuni orang dengan mudahnya *sampe sekarang juga gitu sih, tapi paling nggak ada progressnya :B*. Rasanya semua perasaan kecewa dan sebel itu pengen aku pendem doang. Tapi aku diingetin lewat retreat 2 tahun yang lalu *retreat RemPemCo* tentang hati yang dipulihkan. Bahwa keterbukaan adalah awal dari pemulihan. Dari situ, aku belajar buat terbuka, belajar buat mengampuni :) sulit? Jelas! Tapi nggak ada salahnya buat mencoba kan...?



Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

(Lukas 23:34a)



Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

(Kolose 3:13)



--**--


Anak-anak juga ngajarin aku gimana aku bisa menikmati hidup *do what you love*, gimana aku nggak boleh nyerah *bayangin aja ada anak yang keliatan gembira sambil naik sepeda, setelah jatuh berulang kali. He doesn’t give up to learn how to bike, and that’s why I should do the same thing to face the world*... :) mereka itu berharga banget, lho. Walopun orang sering memandang mereka dengan sebelah mata, sering menganggap remeh anak-anak, tapi Tuhan menghargai mereka. Bahkan Dia menjadikan anak-anak sebagai contoh bagi para murid.



At that time the disciples came to Jesus and asked, “Who, then, is the greatest in the kingdom of heaven?”

He called a little child to him, and placed the child among them. And He said: Truly I tell you, unless you change and become like little children, you will never enter the kingdom of heaven. Therefore, whoever takes lowly position of this child is the greatest in the kingdom of heaven.

(Mathew 18:3-4 – NIV)


Once again, anak-anak itu berharga banget di hadapan Tuhan. Kenapa? Karena Dia yang menciptakan mereka. So, jangan sampe kita mengabaikan kehadiran mereka di dalam hidup kita. Bukan cuma karena perkataan Tuhan Yesus kaya’ di atas itu, tapi karena anak-anak adalah generasi penerus gereja. Kalo dari sekarang kita nggak bisa meraih mereka, membimbing mereka untuk jadi teladan buat orang lain... aku nggak yakin dalam 5-10 tahun lagi gereja masih ada di sekitar kita ._.





Think again about the children and the church, and you’ll know what’s God desire for them :)

Senin, 23 Februari 2015

Dating to Marriage: 'A Lifetime Commitment' (2)

Senin, Februari 23, 2015 0 Comments
read the 1st part here


Jadiiii ini masuk ke bagian kedua ya, readersss :D


2. Hal-hal BUKAN primer lainnya. TAPI juga punya KONSEKUENSI besar

a. Ras
(bukan bermaksud rasis ya. Tapi kalo misalnya kamu mau jadian sama dia yang rasnya beda, kira-kira keluarga kalian mau menerima nggak?)

b. Status sosial
(well... sama kaya’ di atas sih hehe)

c. Kebiasaan
(dengan perbedaan kebiasaan *kaya’ yang udah aku bahas di bagian pertama, kira-kira kamu tetep mau nerima pasanganmu apa adanya nggak?)

Sabtu, 21 Februari 2015

Dating to Marriage: ‘A Lifetime Commitment’ (1)

Sabtu, Februari 21, 2015 0 Comments
Guten Abend! :) Dari renungan *ato diskusi* waktu persek tadi dapet banyaaakkk banget. Dan aku seneng banget sama temanya itu #plak #akubelummaumeridwakakaka


Oya. Kembali ke benang merah. Jadi diskusi kali ini nggak cuma ngebahas tentang ‘apa, sih tujuanmu pacaran’, tapi juga ngebahas tentang ‘aku harus gimana sama pasanganku? Kalo putus gimana?’. Eh tapi nggak cuma itu dinx :p lol. Maafkan ya, efek panik tadi sore soalnya haha.


So, tadi Pdt. Petrus Budi S. (beliau adalah salah satu staff dari Kambium, Gloria, Jogjakarta; yang jadi pembicara hari ini) ngebuka diskusi hari ini dengan pertanyaan, “Coba deh kalian amati waktu pemberkatan nikah. Pasti rata-rata bakal padha ngomong, ‘Aku berjanji akan selalu setia, baik di dalam suka maupun duka, blablabla... sampai kematian memisahkan kita’. Ya kan?”


Eh trus masih ada lanjutannya nih, “Tapi perlu kalian tahu, zaman sekarang ada juga yang baru pacaran udah ngomong ‘Sampai kematian memisahkan kita’.” Wohhh, gilakkkk. Padahal pacaran aja bisa ada kemungkinan buat putus kan? Kok udah berani ngomong gitu?? Wong yang udah nikah aja bisa cerai kok! >.<



And here is the first question... ‘Sebenernya kita boleh putus nggak sih, kalo udah pacaran? Trus, apa sih yang sering jadi pemicu mereka yang udah pacaran bisa putus?”

Rabu, 18 Februari 2015

Love for the Forgotten Ones (English version)

Rabu, Februari 18, 2015 0 Comments
When love means as ‘loving the forgotten ones’, we can celebrate the day of love meaningfully :)

Dear readers, I’ll write this post in English. Maybe this event can be held at your communities. Hope this post will inspire you :)


Have you ever thought that someday you’ll become a Grandma or Grandpa? Have you ever thought that someday you’ll have children and grandchildren? Well... I guess some of you have thought about the questions. But, have you ever thought if (maybe) someday all of your beloved people will leave you alone? You’ll be put at a nursing home, without your children or your grandchildren beside you?


You know, those are things which in Grandma-Grandpa’s mind nowadays. They miss their


family, miss their togetherness with their family, miss the laughter from their beloved ones... but, they can’t feel it now.

Love for the Forgotten Ones

Rabu, Februari 18, 2015 0 Comments
Ketika kasih berarti ‘mengasihi orang-orang yang terlupakan’, kita dapat merayakan hari kasih sayang dengan penuh makna :)


Guys, pernahkah kalian berpikir bahwa suatu saat nanti kalian akan menjadi tua (jadi kakek-nenek)? Pernahkah kalian berpikir bahwa suatu saat nanti kalian akan mempunyai anak dan cucu?

Well... aku yakin kalo sebagian besar (ato jangan-jangan malah semuanya?) pernah berpikir seperti itu. Tapiiiii, pernahkah kalian berpikir juga, bahwa suatu hari nanti orang-orang yang kamu kasihi akan meninggalkanmu sendirian *konteksnya keluarga nih*? Kamu bakal tinggal di sebuah panti wreda (panti jompo) tanpa anak dan cucumu?

Selasa, 23 Desember 2014

Danke fur 2014!

Selasa, Desember 23, 2014 0 Comments
Rasanya baru aja nulis resolusi di SAAT Youth Camp (SYC) 2013, eeehhh.. nggak tahunya udah mau selesai nih tahun 2014-nya :p hahaha

Di resolusi 2013, aku bilang ke Tuhan, kalo aku pengen banget bisa bersyukur buat tahun 2014, sama kaya’ waktu tahun 2013 udah hampir selesai. And yes! God makes me more grateful on this year! :) Ada banyak hal yang Tuhan kerjakan dalam hidupku, dan bersyukur karena Dia ada di dalamnya. Aku juga bersyukur untuk setiap orang yang udah Tuhan kasih dalam hidupku sampai  tahun ini :)



Well... ada banyak momen yang bikin aku bener-bener impresed with His presence. Di antaranya:


1. Tahun Baru di Malang (dalam rangka SYC 2013) bareng temen-temen

--> jarang-jarang bisa tahun barunan sama temen-temen di luar kota. Sekalinya gitu, kesannya WOW banget. Apalagi di hari pertama tahun 2014, (puji Tuhannya) gereja kami berhasil meraih juara ketiga Bible Knowledge Competition! :D It’s only by His grace, karena itu pertama kalinya gereja kami bisa masuk babak semi final (dan grand final) BKC :) 

Senin, 08 Desember 2014

Giving or Receiving

Senin, Desember 08, 2014 2 Comments
Guys, kalo kalian sering nonton 'Masha and the Bear', pasti kalian pernah nonton episode mereka waktu Natal. Ceritanya, Santa Klaus yang harus nganterin hadiah ada di jalur kereta yang salah. Masha mainin tuas-rel-kereta yang dilalui Santa Klaus. Dan akhirnya... Santa Klaus kecelakaan *gara-gara jatuh* ._. Trus si Santa Klaus minta tolong ke mereka berdua buat nggantiin dia nganterin kado-kado Natal.


Masha mah seneng banget tuh. Dan akhirnya, mereka berdua nganterin tuh kado-kado. Mereka (baca: kelinci, tupai, landak, rubah, dll. :v) yang dapet kado jadi seneng juga. Sewaktu mereka mau masuk ke rumah (setelah mereka mengantarkan kado), Masha bilang, "Lebih bahagia memberi daripada menerima".



Waktu pertama kali nonton episode itu, entah kenapa aku jadi inget kalo kalimat itu ada di Alkitab. Dan ternyata bener, Guys. Kebaktian Minggu tanggal 30 November kemarin membahas tentang ini (padahal aku baru mikir tentang post dengan tema yang sama. Wohh :O thanks God, and thanks to Ps. Nyoman Widiantara :))




"... Sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima"
(Kisah Para Rasul 20:35)

Rabu, 03 Desember 2014

He Gives, He Takes Away...

Rabu, Desember 03, 2014 0 Comments
Sejak beberapa minggu yang lalu, Tuhan ingetin aku kalo hidup seseorang itu ada batasnya. Akan ada waktunya seseorang pulang kembali kepada-Nya.


Tanggal 13 Oktober lalu, Shu-shu-ku (Om dari Papa) meninggal karena sakit paru-paru. Shu-shu-ku itu tinggal di Balikpapan, dan Papaku langsung ke sana saat tahu kondisinya udah parah banget. Rasanya udah telat banget buat bisa nyembuhin dia, apalagi buat bawa dia balik ke Tuhan (panjang banget deh ceritanya). But praise the Lord, Shu-shu-ku ini mau terima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat-nya, beberapa hari sebelum dia meninggal :’)



Kemarin Jumat malam (28 November), adiknya adik kelasku meninggal karena tumor otak. Padahal masih 9 tahun, kelas 3 SD, unyu, cantik :’’ nggak heran banyak yang kaget waktu denger kabar duka itu #sigh



Mungkin banyak yang bertanya, “Kenapa Tuhan memanggil mereka pulang di usia mereka yang masih muda??”. Atau, “Apa Tuhan nggak mikir gimana sedihnya keluarga dan teman-teman mereka waktu mereka meninggal??”, dan sebangsanya.



Guys, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk setiap orang yang dipanggil-Nya pulang. Mungkin karena tugasnya di dunia telah selesai, atau karena penyakit yang dideritanya nggak kunjung sembuh, atau karena alasan-alasan lainnya. Tapi sayangnya, nggak semua orang melihat peristiwa itu lewat kacamata Tuhan. Nggak jarang mereka menyalahkan Tuhan atas kepergian orang yang mereka kasihi.

Rabu, 22 Oktober 2014

A Worth-It Waiting (17)

Rabu, Oktober 22, 2014 0 Comments
The last part of "A Worth-It Waiting!"



Narita International Airport, a week after that confession...


Hari ini Akira-kun akan berangkat ke Amerika Serikat. Sebenarnya, aku masih ingin dia tetap di sini, walaupun dia pernah bilang padaku bahwa dia akan melanjutkan studinya di Negeri Paman Sam itu selama 2 tahun (cepet lulus, Kak! >.<).

“Hati-hati di jalan ya, Akira,” kata Paman Yamato pada Akira-kun. Beliau sengaja cuti hari ini untuk mengantar kepergian anaknya.

“Akira,” Tante Harumi berkata sambil memeluk Akira-kun, “kami menyayangimu. Jaga dirimu baik-baik. Kami tidak ingin kehilanganmu Nak...”

Akira-kun tersenyum saat mendengar kata-kata orang tuanya. “Baik, Otoosan. Doakan supaya aku sampai di sana dengan selamat ya. Okaasan jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja. Aku juga menyayangi kalian,”  katanya. Dia memeluk orang tuanya.

Setelah melepaskan pelukannya, Akira-kun memanggil Wataru dan beberapa temannya yang ikut mengantarnya. Sementara mereka mengobrol, aku diajak ngobrol oleh Tante Harumi.

“Tante bangga sekali pada Akira. Dia benar-benar berjuang keras agar dia bisa melanjutkan kuliahnya ke Amerika Serikat. Dan..,” beliau tersenyum ke arahku, “Tante senang sekali karena dia memilih sahabat Kyoko untuk menjadi teman hidupnya. Terima kasih, Akane.”

Aku balas tersenyum ke arah Tante Harumi. Tiba-tiba Wataru menepuk bahuku. “Akira ingin berbicara denganmu,” katanya.

Aku melangkah ke arah Akira-kun, sementara teman-temannya gantian mengobrol dengan orang tuanya. Akira-kun menggenggam tanganku setelah aku sampai di depannya. Oh no... jangan sampai aku menangis di hadapannya.

A Worth-It Waiting (16)

Rabu, Oktober 22, 2014 0 Comments
It's a loooongggg time since I'd posted the last post about the story :p just check the link on the page to read the previous stories yaaa




Keesokan harinya, Akira-kun menelponku lagi. Tepat saat itu, Wataru sedang pergi; orang tuaku sedang ke restoran mereka.

“Moshi-moshi?” sapaku, berusaha menenangkan jantungku yang terus berdebar kencang.

Akira-kun berkata, “Akane-chan.. Minggu depan aku berangkat.”


Aku tersentak. Minggu depan!? Bukannya dia bilang padaku bahwa dia akan berangkat ke Amerika 2 minggu lagi??


“Bukannya 2 minggu lagi Akira-kun?” kataku kaget. Akira menghela nafas, lalu melanjutkan,

“Dosenku memintaku agar aku bisa berangkat minggu depan. Entahlah, dosenku punya firasat buruk kalau aku nggak berangkat minggu depan.”


Aku cuma terdiam. Dan tak terasa, air mataku mulai meleleh.


“Akane-chan, kamu masih di situ kan..?” suara Akira-kun mulai terdengar khawatir. Oh, jangan sampai dia tahu kalau aku menangis. Tapi bodohnya, yang terjadi justru sebaliknya.

A Worth-It Waiting (15)

Rabu, Oktober 22, 2014 0 Comments
-u-“ Lama nggak nulis nih. Hehehe...

Sebuah pemberian, jika diberikan dengan hati tulus, akan memberikan efek besar bagi yang menerimanya.


Begitu aku masuk ke kamar, HPku berdering. Akira-kun.

“Moshi-moshi?” aku menyapanya.
“Arigatou gozaimasu,” jawab Akira-kun.
Aku mengerutkan dahi. “Hah? Kenapa ‘arigatou gozaimasu’, Akira-kun?” tanyaku.

Dapat dipastikan bahwa Akira-kun sedang meringis saat ini.
“Ehehehe.. Terimakasih untuk bukunya. Ehm, omong-omong, ini buku tentang apa sih?” katanya sambil merendahkan suaranya.
Aku berkata, “Oh, itu tentang menjadi seorang pengikut Kristus, bukan sekedar penggemar-Nya J”
“Wow,” dia bergumam kecil, “kelihatannya menarik. Terimakasih lagi, Akane-chan.”
Aku tertawa kecil. “Sama-sama J Bukankah rasanya menyenangkan, bisa belajar tentang Kristus dengan orang yang dicintai?”

Ups.

A Worth-It Waiting (14)

Rabu, Oktober 22, 2014 0 Comments
Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku. – Mia Clark (Sunshine Becomes You)


“Hei, aku tidak yakin kalau kau mau mencoba permainan itu.”

Suara Akira-kun membuatku tersadar, dan mengalihkan pandanganku dari wahana itu.

“Memangnya kenapa?” tanyaku sambil tersenyum, “kau takut, ya, Akira-kun?”

Akira-kun menggeleng. “Tidak, bukan itu. Aku tidak ingin mendengarmu berteriak paling kencang saat roller coaster itu turun dari tanjakannya,” jawabnya sambil menyeringai.

.__. “Kita lihat saja nanti. Ayolah, temani aku, ya J” aku berusaha merajuk padanya, meski itu kulakukan sambil tersenyum kecil.

Akira-kun pura-pura mendesah, tapi dia tertawa. “Oke, aku akan menemanimu.”

-*-

Sudah 5 tahun sejak kami kehilangan Kyoko, dan sejak saat itulah aku mulai mengenal Akira-kun.
5 tahun bukan waktu yang sebentar. Dan dari situlah, kami belajar untuk menjadi sahabat satu sama lain. Oke, kurasa kalimat terakhir itu harus dikoreksi. Kami belajar untuk saling percaya dan berbagi satu sama lain.

“Kau melamun lagi, Akane-chan.”
Akira-kun menyadarkanku untuk yang kesekian kalinya. Entah kenapa, hari ini aku sering melamun setiap memikirkannya. Itu bukan berarti aku menyukainya. Bukan! Aku merasakan sesuatu yang lebih dari itu.

Senin, 20 Oktober 2014

Don’t be Anxious!

Senin, Oktober 20, 2014 0 Comments
Kemarin Minggu (19 Oktober), K’ Daniel (Koko Pendeta :p lol! Ampun, KoDan wkwk) kotbah di kebaktian. Temanya sih tentang keluarga yang menghayati penyertaan Tuhan ato apa gitu (temanya panjang banget -.- #ups), terus tahu-tahu KoDan ngebahas tentang perbedaan cemas (anxious) dan kuatir (worry) *menurut Pak Joas, katanya. Keliatannya sih Pdt. Joas Adiprasetya. Ehm, bener nggak ya..?*.


Pak Joas bilang, kuatir adalah salah satu perasaan yang berhubungan dengan psikologis seseorang. Misalnya, ada ortu yang mikirin anaknya yang belum pulang dari sekolah. ‘Waduh... anakku di mana ya? Udah pulang ato belum sih? Apa ada kegiatan lain di sekolah ya?’. Tapi kalo cemas, nah ini bukan cuma nyangkut sama psikologisnya doang, tapi juga sama spiritualitasnya. Pokoknya, dikit-dikit cemas, mikir yang enggak-enggak, terlalu berpikiran yang terlalu panjang, blablabla... Dan perasaan cemas ini yang Tuhan nggak pengen ada di dalam kehidupan kita. Iya sih... wajar aja kan kalo kita kuatir sama sesuatu, tapi jangan kebablasan deh ya :p



Terus apa sih hubungannya perasaan cemas sama penyertaan Tuhan?