A Worth-It Waiting (3)
Tabita Davinia
Sabtu, Mei 19, 2012
0 Comments
Aku nggak ngerti
sama jalan pikirannya Kak Fuyuki. Maksudku, kenapa sih dia ngaku – ngaku kalau
dia adalah Wataru – kakakku yang udah lama menghilang?
“Ehm, Akane.
Sori... Tadi entah kenapa aku jadi ngomong kaya’ gitu,” kata Kak Fuyuki saat
kami melewati jembatan yang terletak 3 rumah dari rumahku.
Aku mengangkat
bahu. “Nggak apa – apa, sih. Toh, kakakku itu memang udah pergi dari rumah 5
tahun yang lalu. Lupakan saja,” kataku sambil tersenyum kecil.
And Fuyuki speechless. Ha!
“Akane, apa
sampai segitunya kamu benci sama kakakmu sendiri?” tiba – tiba Kak Fuyuki
memegang bahuku.
Glek.






