Back again with Tabita! ^^ Sebelumnya, aku mau bilang HAPPY VALENTINE, all! :D hehe~ Oke, di bulan kasih sayang ini, aku mau menulis beberapa kata bijak dari beberapa orang. Nah... Sekalian, aku juga mau mem-post'kan karya terbaruku di bulan ini ^^ hehe~
oke! berjumpa lagi :) setelah tugas Inggris (buat recount tentang KKJHS - Solo, Indonesia, 2009-2012), dongeng dari Bahasa Indonesia (Gadis Penjual Roti dari Inggris ^^), dsb~ dikumpulkan, akhirnya aku bisa coret - coret lagi di blog XD
yang pertama! Retreat kelas 9 - I1, 11 - 13 Jan 2012. Setiap sesi, outbound (yang capeknya SESUATU BANGET. eh, besok kalau ada Refreshing Course bareng Komisi Remaja - Pemuda, game'e yang dari retreat sekolah diusul'in ah XD), dan KKR punya hal yang keren, mengharukan, gayeng, dsb~ SESUATU~
Cuma sekedar nge-post sesuatu yang udah terjadi selama 2011 :) semoga bisa bermanfaat!
1. ta-daa~ 30 April 2011 adalah titik awal kembaliku ke jalan yang benar O:) Saya bertobat -3-" hehehe~ dan terjadilah hadiah yang SESUATU BANGET tanggal 25 desember silam. Dibaptis ^^
Semoga tahun ini bisa menjadi berkat buat kita semua. Hehe~
*maaf, telat. hhe*
Oke! pertama kalinya ngrayain Tahun Baru bareng temen - temen greja (oya, dan spupuku) memang keren skali. Haha~ O jelas. Udah di hari Sabtu dan Minggu, nginap, wkwkwk~ SESUATU BANGET XD
Christmas! Aaa~ Merry Christmas, all~ ^^ Oke, Natal tahun ini = SESUATU BANGET :) Banyak hal yang aku dapat hari ini. Gyaaa~ Yang pertama. Pengakuan percaya (Sidi) Dan aku sempat deg - deg'an waktu mau njawab pertanyaan Pak Anthon (Pendeta gerejaku) - padahal jawabannya sama dengan temen2 yang lain. Terus, maju satu - satu untuk diteguhkan. Eh, dibaptis...
Aku nggak akan pernah lupa tentang hari itu... Sekarang, 3 tahun kemudian setelah perginya Wataru “Akane!” Suara yang keras itu menambah ramainya koridor. Oi, oi... “Ada apa, sih?” tanyaku pada Kana – yang memanggilku barusan. “Di kelas, teman – teman lagi heboh!” jawab Kana dengan mata membelalak. Aku mengangkat bahu. “Lha, terus, ngapain?” tanyaku. Kana mendesah, “Yang jadi masalahnya kamu, Akane! Sekelas gempar saat melihat kartu Natal dari cowok di kelas lain!”
makasih, Tuhann~ :) walaupun aku nggak bisa masuk 10 besar, tapi seenggak - enggaknya 15 besar itu keren banget. apalagi dengan jumlah rata - rata 1030,...
ya, berhubung aku berada di kelas A (buat adik - adik klasku yang ada di klas A, bersiaplah bersaing dgn ketat. hoahahaha~ angkatanku ganas *ganas dlm arti terlalu pintar* banget taun ini), jadilah mau nggak mau aku harus bisa bersaing dengan SANGAT KETAT juga. dan hasilnya...
If I remember this song, I'll remember that I'm precious in His sight :)
-Song at Youth's X'mas. December, 17th, 2011-
In Christ alone my hope is found He is my light, my strength, my song This Cornerstone, this solid ground Firm through the fiercest drought and storm What heights of love, what depths of peace When fears are stilled, when strivings cease My Comforter, my All in All Here in the love of Christ I stand
Semua bermula dari kegelisahan remaja saat ini. Jatuh cinta, patah hati, tugas sekolah menumpuk, pelayanan menanti, dan juga tentang seorang asing yang mengaku diri sebagai kakak.
Akane ingin tahu kebenaran tentang kakak laki - lakinya, Wataru, yang katanya telah menghilang selama 3 tahun. Meskipun Akane tahu bahwa Wataru telah lama menghilang, tapi entah kenapa dia merasa bahwa di sekitarnya, kakaknya itu selalu ada untuknya.
Buat Tuhan Yesus = makasih Tuhan, buat
keluarga yang telah Engkau berikan buatku *di rumah, skolah, greja. eheheh~*
Buat Ane = ini fiction anime ptamaku
(ngambil dari Conan, euy~ XD). Hope you like it!
Buat Lia + Shanen = makasih uda jadi
sahabatku. uhuu~ :)
Buat C' Rika = hhe~ makasih uda mbimbing
aku buat kenal Tuhan, cc ^^
Buat semuanya = thanks for your love to
me~! ^u^
For the readers = have a nice read! giving
your comment, please XD
“How shall I sing to God, when life is filled with gladness? Loving and
birth, wonder and worth. I’ll sing from the heart. Thankfully receiving. Joyful
in believing. This is my song. I’ll sing it, sing it with love...”
“Ai!”
Seorang cowok memanggilku dengan lantang.
Mitsuhiko, dialah yang memanggilku. Ia menghampiriku dan berkata,
"Kamu baik-baik saja?”
Aku memiringkan kepala. “Hah? Aku nggak
kenapa-napa, kok :O Memangnya kenapa?”
Mitsuhiko menjawab, “Wajahmu tampak pucat.
Ehm, kamu serius jadi singer hari ini?”
Aku berkata, “O, jelas dong :3 Aku nggak
sabar dari kemarin!”
Aku berkata, “:3Konnichiwa!* >u< Hayo, jarang-jarang kalian berangkat berdua. Ada apa ini?”
Kak Heiji menjawab, “Oh, nggak apa-apa,
kok :D Kami cuma mau persiapan buat persekutuan nanti. Memangnya kenapa, Ai?
Oya, tadi kamu dicari sama Conan.”
“Wah, temanku itu memang agresif
mendekatimu, Ai! XD ehehehe~ PDKT sama kamu, tuh. Hoahahaha~ “ Mitsuhiko
tertawa *ngakak*
“Waduh, ada yang lagi
senang nih ^^” kata Kak Kazuha sambil meringis
Aku cuma tersenyum kecil, “Biarkan saja.
Jangan seperti Ayumi, dong -o-“” kataku.
“Ai!” *bagus, ada cowok yang memanggilku
(lagi)*
“Ya?!” aku menoleh. Si
cowok yang sedang ‘dirasani’ *eh, dibicarakan* itulah yang memanggilku. Conan.
“Sini sebentar :) Aku mau
bicara sama kamu,” kata Conan sambil tersenyum. Kemudian, dia menyapa 3 orang
lain yang bersamaku,
“Konnnichiwa, Kak
Heiji, Kak Kazuha, Mitsuhiko! :D” sapa Conan sambil tersenyum senang. Dan
ia-pun mengajakku ke depan perpustakaan.
-0o0-
“How shall I sing to God, when life is filled with bleakness? Empty and
chill, breaking my will. I’ll sing with my pain. Angrily or aching. Crying or
complaing. This is my song. I’ll sing it, sing it with love...”
“Ada apa, Conan?” tanyaku penasaran.
Conan tampak salting melihatku. Kemudian,
dia menjawab dengan cepat,
“Ng, nggak apa-apa. Aku
cuma mau ngomong sesuatu, kok. Ehehehe~ Besok Minggu, setelah persiapan Natal,
kamu ada acara nggak?” tanyanya.
“Tanggal 18 besok? Hm... Sebenarnya, sih nggak.
Tapi,otoosan (ayah) danokaasan(ibu) nggak memperbolehkan kami untuk keluar rumah
sampai jam 9 ke atas. Orang tua kami, kan tegas sekali. Conan, kan tahu,”
jawabku (oke, memang orang tuaku sangat tegas. Tapi kalau memang ada sesuatu
yang darurat -tersesat di jalan, ada paduan suara, seperti itu deh-, mereka
pasti memberi izin).
“Oh, begitu. Padahal aku ingin mengajakmu jalan.”
APA? *mataku melotot*
Conan (tampaknya) merasa dirinya konyol saat berkata seperti itu. Jadi dia
segera menambahkan,
“Eh, lupakan saja. Maksudku, aku ingin mengantarmu pulang,” kata Conan.
Aku meringis, “Lho, aku kan pulang sama Mitsuhiko,” kataku.
Conan tampak syok saat aku bilang begitu. Dan saat itulah, HPku berdering
dengan riangnya. Ayumi.
“Ai~ Kamu udah sampai belum? Aku lagi otw nih. Tungguin ya :D”-Ayumi
Aku = *syok berat* “Iya, iya~ cepetan!”
“Dari siapa, Ai?” tanya Conan.
“Oh, dari Ayumi, kok. Hehe~ Aku keluar dulu, ya ^^ Harus nunggu, nih.
Sayonara!” kataku sambil melambaikan tangan. Conan melambaikan tangannya dengan
senyuman.
-0o0-
Dan seperti biasa, Ayumi langsung ngomong hal-hal yang nggak masuk akal
*buatku*. Please, deh. Siapa, sih
yang tahan kalau kamu terus dijodoh-jodohkan sama orang yang nggak kamu sukai?
“Taraaa~ XD Tuh, lihat! Conan terus melihat ke arahmu loo~ awawaw~”-Ayumi
“-_- *wtf about that*. Terus? Ah, paling kamu yang suka sama dia. Haha!”-aku
“Omong-omong, besok Minggu kamu datang ke gladi kotor Natal, kan?”-Ayumi
*makasih, Tuhan. Pembicaraannya beralih ^^*
“XD O, jelas. Eheheheh~ Hayo, kenapa kamu, Ayumi?”-aku
“Biar bisa terus kujodohkan sama Conan! :P”-Ayumi
Plak
Terserah kamu deh.
-0o0-
How shall I sing, and tell my Savior’s story? Passover bread, life from the
dead. I’ll sing with my life. Witnessing and giving. Risking and forgiving...
Hari Minggunya, tanggal 18. Semua yang terlibat dalam Perayaan Natal tahun ini
datang ke gladi kotor di gereja. Dan Ayumi-pun langsungkesengsem*salting, maksudku* saat
melihat Conan yang berperan sebagai Yusuf di sana. Ha!
Untungnya *bagiku*, waktu itu aku sedang latihan menyanyi *aku ikut paduan
suara* bersama Kazuha-chan. Minggu lalu aku nggak masuk *biasa, tes itu terlalu
menguras waktuku -_-*. Jadi, Ayumi-pun juga ikut latihan. Wkwkwk~
“Ai,” tiba-tiba Mitsuhiko memanggilku, “nanti begitu selesai, kita langsung
pulang, ya. Aku masih ada PR Biologi yang belum selesai.”
Aku mengangguk, “Oke.”
Dan begitulah. Kami berlatih dan berlatih *dramanya sampai diulang 2 kali.
Hoahmm~* sampai jam menunjukkan pukul setengah 9 malam.
“Oke. Hari ini kita sudahi dulu, ya. Makasih atas kesediaannya itu ikut gladi
kotor hari ini. O ya. Tanggal 25 besok, di Twilight Resto, jam 11 siang, ada
gladi bersih buat malamnya. Buat teman-teman yang nggak bisa datang secepatnya,
harap segera beritahu saya, ya. Makasih~” kata Kak Heiji sebagai penutup.
Setelah doa penutup *dan makan malam, walaupun tadi aku dan beberapa temanku
sudah makan sewaktu istirahat tadi*, aku dan Mitsuhiko langsung pulang.
“Hati-hati, ya~” kata Kak Heiji dan Kak Kazuha.
“Oya. Belakangan ini ada pencopet di dekat rumah kalian. Tetap waspada, ya. Aku
takut kalau ada apa-apa denganmu, Mitsuhiko. Terutama padamu, Ai. Hati-hati di
jalan, ya,” pesan Conan dengan cemas.
“Ihiirrr~ Conan mencemaskan Ai! XD” kata Kak Heiji.
“Heiji-kun -3-“” Conan merengut.
“Wahahaha~ XD Kami pulang dulu, ya. Selamat berdebat ria, deh :D,” kata
Mitsuhiko sambil tertawa.
Aku berkata, “He’eh! Kami pulang dulu, ya.Konbawa!Sayonara*****semua!”
Tapi tampaknya ucapan Conan betul-betul terbukti.
-0o0-
Tinggal beberapa meter lagi, kami sudah sampai di rumah. Untunglah nggak ada
yang *tampaknya* mengawasi kami.
“Ayo, Ai. Buka gerbangnya. Biar aku langsung mengerjakan PR-ku. Ampun, PR apa
PR itu, 120 soal, dan aku baru selesai ¾-nya -_-“ kata Mitsuhiko.
Aku menjawab, “Iya, iya~ Uh, dingin bener malam ini -o-“”
GRASAK! GRASAK!
Aku menoleh ke arah suara itu. Sesosok manusia melompat ke arah kami.
Ups...
“Berikan apa yang kamu punyai sekarang!” seru orang itu (sebut saja A)
Aku mencengkram kuat lengan Mitsuhiko. Uhh~ Gimana, nih?!
“Memangnya kami seperti orang kaya, ya? Sampai kamu menyuruh kami melakukannya?”
tantang Mitsuhiko.
>< jangan, koko~ Waktunya bukan buat main tantangan, nih! Aaa~
BET!
Si A mengeluarkan pisau dari kantongnya. Dia nggak main-main!
“Cukup serahkan buku C*****n S*u* terbarumu! Aku melihatmu membelinya di toko
buku. Cepat!” paksa A.
Aku bertanya *dengan kepanikan ekstra*,
“Tapi ini dari uang tabunganku sendiri! Apa kamu nggak tega? Aku membelinya
karena tugas guruku!” kataku.
Si A menyodorkan pisaunya, “Eh, ini pisau asli, lho. Mau?”
Mitsuhiko memelukku. Dia berkata, “Jangan
macam-macam sama Ai!”
Aku menatap Mitsuhiko. Oke, sebagai kakak, baru kali ini dia berkata seperti
itu *terharu*.
“Ai,” bisik kakakku itu, “berikan saja padanya. Nanti akan kutukar, deh.”
Aku melotot, “Ini dari tabunganku sendiri, Mitsuhiko! Aku menabung sebanyak 200
yen tiap minggu. Susah banget dapat buku seperti ini,” kataku protes.
Mitsuhiko menjawab, “Sudah. Berikan saja. Jangan khawatir, kalau gurumu
bertanya, katakan saja kalau ada kejadian nggak terduga yang membuatmu harus
melepaskan bukumu.”
Aku menarik nafas. “Oke,” jawabku sambil
menyerahkan buku yang diminta A.
SRET!
Sebuah sabetan melukaiku. Dan si A langsung ngibrit. Tapi anehnya, aku sama
sekali nggak merasakan apa-apa. Aku menoleh ke sampingku. Mitsuhiko meringis
kesakitan sambil memegang tangan kirinya.
“Otoosan!!!Okaasan!!! Mitsuhiko disabet!!”
teriakku di depan rumah. Orang tuaku *dan beberapa tetangga yang mendengarnya*
langsung keluar. Otoosan mengeluarkan mobil, sementara 2 tetanggaku membopong
Mitsuhiko ke dalamnya.
-0o0-
How shall I sing to God, when life is filled with gladness? Loving and
birth. Wonder and worth...
Rumah sakit memang bukan tempat yang menyenangkan saat ini. Aku melihat ke
sekelilingku. Warna putih dan hijau mewarnai dinding bangunan ini. Rumah Sakit
Tokugawa Ieyasu menjadi tujuan kami untuk mengobati *eh, menyembuhkan* tangan
Mitsuhiko.
Aku menangis sejadi-jadinya selama perjalanan ke rumah sakit. Sementara itu,okasaanterus membelaiku dan
berkata, “Dia akan sembuh, Ai. Berharaplah yang terbaik untuknya.”
Setelah Mitsuhiko dibawa ke ruang pengobatan, aku dan orang tuaku duduk lemas
di ruang tunggu.Otoosanbertanya padaku,
“Ai, kira-kira seperti apa kejadiannya?”
Aku yang sudah nggak begitu menangis, kemudian menjawab,
“Seseorang memintaku untuk menyerahkan buku yang kemarin kubeli. Padahal itu
dari hasil tabunganku, tugas dari guru Ekonomiku. Otoosan, aku harus bagaimana?
Buku itu harus kuserahkan 1 bulan lagi,” kataku cemas.
Okaasanyang sedari tadi diam, kemudian berkata,
“Kalau aku tahu siapa yang melukai Mitsuhiko, akan kuceramahi habis-habisan
*okasaan adalah psikolog*.”
“Bukan cuma itu. Akan kukuliti dia hidup-hidup!
*otoosanadalah manajer perusahaan kerajinan kulit
kayu*” kata otoosan dengan geram.
Aku menjawab, “Meskipun demikian, aku tetap mengampuninya. Aku berharap Tuhan
memberinya akibat dari perlakuannya tadi.”
Orang tuaku memelukku. “Itulah yang harus kita lakukan. Sebagai terang-Nya,
kita harus tetap mengampuni orang yang telah melukai kita. Maaf, Ai. Saking
kesalnya aku, aku sampai mau menguliti dia. Tapi memang begitu kenyataannya.
Kalau sudah di luar kendali, aku bisa ngomong yang nggak realitis,” kataotoosan.
“Tapi kalau aku memang bisa bertemu dengannya, aku akan betul-betul menceramahi
dan menasehatinya,” kataokasaan. Kemudian dia pergi
bersama otoosan untuk membeli minuman.
Aku termenung di kursi. Kalau memang orang yang ingin membeli buku itu,
seharusnya, kan nggak perlu sampai menyabet Mitsuhiko. Dia, kan bisa bicara
baik-baik...
“Ai, kenapa kamu ada di sini?”
Aku mendongakkan kepala. Conan tampak cemas melihatku.
“Mitsuhiko tadi disabet pisau, Conan,” jawabku lemas, “kamu sendiri kenapa?”
Conan menjawab, ”Oh, aku turut sedih. Semoga nggak ada masalah apa-apa dengannya.
Ehm, aku ke sini untuk menengok keluargaku, kok. Tanteku baru ada yang
melahirkan hari ini.”
Aku berkata dengan penuh penyesalan, “Ini semua salahku. Kalau tadi aku memburu-burunya
pulang, mungkin nggak ada yang akan menyabet Mitsuhiko. Kalau sampai tangan
Mitsuhiko harus diamputasi, aku nggak akan memaafkan diriku sendiri,” kataku.
Oh, jangan sampai aku menangis lagi...
“Sebentar, sebentar...” Conan menyela, “Memangnya apa yang terjadi?”
Dan kemudian mengalirlah ceritaku tentang itu...
-0o0-
I’ll sing from the heart. Thankfully receiving. Joyful in believing. This is
my song... I’ll sing it, sing it with love...
“Jadi begitu?” Conan mengerutkan dahinya setelah aku bercerita. Aku mengangguk.
“Yah, semoga Mitsuhiko nggak kenapa-napa. Aku nggak tahu mau bagaimana lagi
kalau semisal dia nggak bisa jadi ketua Youth seperti biasanya,” kataku pasrah.
Tiba-tiba Conan memegang tanganku. Dia melihatku dan berkata dengan mantap.
“Dia pasti akan sembuh. Percayalah padaku,” katanya sambil mengangguk kecil.
Aku menarik nafas, lalu menjawab, “Aku tahu. Tapi kalau seandainya tangannya
harus diamputasi, bagaimana? Apa aku harus mengamputasi tanganku juga, lalu
mendonorkannya pada Mitsuhiko?”
Conan menggeleng-gelengkan kepalanya, “Jangan pesimis begitulah~ Bukannya
Mitsuhiko sendiri bilang kalau ada masalah apapun, kita harus menghadapinya
dengan optimis? Ehm, kamu mau kita berdoa sekarang, buat Mitsuhiko?” usulnya.
“He’eh. Aku berharap Tuhan memberi yang
terbaik untuknya,” jawabku, kemudian berdoa.
Semenit kemudian, orang tuaku kembali,
bersamaan dengan keluarnya dokter yang menangani Mitsuhiko.
“Sabetannya cukup dalam. Tapi entah
kenapa, kami bisa mengobatinya tanpa perlu dioperasi atau diamputasi. Ini
mujizat!” kata si dokter.
Okasaanlangsung mengatupkan
tangannya dan berkata, “Arigatou gozaimasu, Jesus!”
Otoosanbertanya pada dokter,
“Berapa yang harus kami bayar?”
Dokter itu tersenyum, “Anda tidak perlu
membayar. Seorang berbaju putih telah membayarnya untuk kami. Dia bilang, bahwa
anak Anda adalah kerabat-Nya. Padahal, dia baru saja datang. Saya dapat
laporannya dari suster saya,” jawabnya.
Aku dan Conan berpandangan. Dia pasti
Yesus! Oh, Tuhan~ Makasih buat semuanya!!
“Mari masuk. Lihatlah keadaannya,” ajak si dokter sambil membuka ruangan.
Mitsuhiko melihat ke arah kami. Kemudian dia menyapa kami, “Otoosan,
okasaan, Ai, Conan...”
Orang tuaku tersenyum, “Istirahatlah. Kamu
pasti capek. Kita pulang nanti saja, setelah kamu memang nggak ada apa-apa.”
Mitsuhiko berseru, “O ya! PR Biologiku! -3-“ Ah, pulang besok saja, deh. Sudah
jam setengah 11 -_-“
Kami tertawa melihat tingkahnya. Setelah tawa mereda, Mitsuhiko berkata,
“Ehm, ada yang mau kubicarakan dengan Ai. Bisa tolong keluar sebentar?” tanya
Mitsuhiko.
Orang tuaku, Conan, dan dokter mengangguk. Kemudian, setelah tinggal aku dan
dia di kamar, dia berkata,
“Kurasa aku yang kegabahan. Maaf, ya Ai. Kamu jadi repot juga,” kata Mitsuhiko.
Aku menggeleng cepat. “Nggak kok. Aku malah berterima kasih padamu karena kamu
sudah menyelamatkanku tadi.I’m very grateful to Him. He gives me the
best brother in my life!” kataku. Kemudian aku
memeluk Mitsuhiko.
Makasih, Tuhan, buat Mitsuhiko yang jadi kakakku. Aku senang dia mau
melindungiku.You’re the best for me, God!
-0o0-
I’ll sing it, sing it with love...
Tanggal 25 Desember = Natal = SESUATU BANGET! ^^
Minggu lalu, setelah keadaan Mitsuhiko
membaik, ia langsung pulang *dan mengerjakan PR Biologi se-abreknya sampai jam
1 pagi* ke rumah. Baginya, kado terindah Natalnya tahun ini adalah kesembuhan
tangannya *makasih, Yesus. Udah mau bayar pengobatannya :D*
“Ai!” Ayumi menepuk bahuku saat aku tiba di Twilight Resto sore itu. Ia
meringis,
“Aku dengar dari Kak Kazuha. Katanya, minggu lalu kakakmu kena sabetan, ya?”
Oya. Sewaktu perjalanan pulang ke rumah minggu lalu, aku mengirim SMS ke Kak
Kazuha tentang peristiwa yang menimpa kami.
Aku mengangguk, “He’eh. Tapi syukurlah minggu lalu dia langsung pulang. Begitu
sampai rumah, dia langsung kembali mengerjakan PR-nya. Anak rajin dia XD”
jawabku.
Ayumi tersenyum, “Ya~ Aku senang semuanya kembali normal. Ngomong-ngomong,
bagaimana dengan bukumu?”
‘Oh, buku itu? Hari ini, aku malah mendapatkannya persis seperti yang kubeli
Sabtu lalu. Rupanya Mitsuhiko menepati janjinya. Hahaha~ :D” jawabku sambil
tertawa.
Ayumi-pun ikut tertawa. Kemudian, dia berkata, “Oya. Karena kamu sudah sampai,
ayo kita ke belakang panggung! Kita, kan harus latihan dulu.”
Aku menjawab, “Eh? Okee~ Mitsuhiko, ayo cepat!”
Mitsuhiko yang sedang berbicara dengan Conan langsung berpamitan *ya nggak
persis seperti itulah. Nanti, kan masih ketemu. Uhuu~* dan pergi ke arah kami.
“Latihan sekarang? Uhh, males banget -3-,”
kata Mitsuhiko. Kemudian, dia menambahkan, “Oke, oke.. Aku bercanda, kok :D Ayo
kita ke sana!” ajaknya sambil menggandeng tanganku.
Writer’s note = hiyaaa~ Aku snang skali sewaktu bisa ngarang cerita seperti ini
*berhubung aku nggak punya koko, jadilah aku ngarang begini*. Oya. Aku
menyelipkan lirik “How Shall I Sing to God?”. Ehehehe~ Bagiku, itu lagu yang bagus.
Dalam setiap keadaan kita, entah itu senang atau susah, kita harus tetap bisa
jadi terang-Nya dengan baik. Nyanyikanlah hidupmu dengan kasih dari Tuhan
Oke~ sekian dariku. Semoga dapat menghibur, ya. Gomawo~
1200 characters aren't enough to describe who am I. But one sentence that can describe me is, "I'm a princess of Heavenly King who has saved me with His everlasting love and grace; and there is no reason to regret my decision to follow Him" :)