Friday, February 10, 2017

When He is Out of Your Expectation

Posted by Tabita Davinia at Friday, February 10, 2017
Beberapa orang berpikir bahwa, "Wah, Vinia / Tabita udah punya pacar! Cieciecie... PJ, PJ (pajak jadian :p)~" itu sesuatu yang bener-bener di luar dugaan. Iya, karena aku emang nggak keliatan punya niat buat pacaran sekarang (lol!). Tapi ups! dugaan mereka salah, because I have bf rn :) Thanks God for giving me a bf who will be my future spouse. Let's call him as Koted. Iya, karena dia delapan taun lebih tua dariku (udah mau kepala tiga dia! Wkwkwk) :p buakakakakaka. Tapi kecintaannya pada generasi muda itu yang bikin kagum :)

Ada buaaanyaaakkk hal yang kami lalui sejak kami memutuskan untuk berkomitmen satu sama lain, dan itu menolong kami untuk semakin bertumbuh di dalam Tuhan :)




Dalam hal karakter, aku bukan orang yang gampang buat menerima orang lain, entah karena akunya perfeksionis (huahahaha tapi sekarang baru belajar me-los-kan beberapa hal :p) atau karena melihat figur inspirasi hehe. Apalagi dalam hal pasangan hidup (a.k.a. ph). Pokoknya maunya yang Godly man, seiman (jelas!), punya visi-misi yang sama, kehidupan rohani yang bertumbuh, cinta aku (of course! lol), pinter, bisa mengayomi (makanya dari dulu aku carinya cowo yang lebih tua :p wkwk), nggak ngomong kasar (termasuk ngomong pake nama hewan dsb.), dan (sukur-sukur) kalo dapetnya yang lebih tinggi dari aku. Wahahahaha kaya'nya ini impian semua cewe yak :p ya nggak? Hahaha.

But, ups! Kenyataannya, walopun ada beberapa cowo yang masuk ke hatiku (terhitung sejak aku kelas 1 SMP), yang termasuk kriteriaku itu bisa dihitung dengan satu tangan, kok. Karena emang susah cari cowo yang kaya' gitu *sigh*. Kalopun ada, nggak semua kriteriaku terpenuhi. Pasti ada aja yang miss.

Nah, di saat aku mulai galau dan mikirin ini-kenapa-aku-enggak-punya-pacar-mulu-yak-apa-gara-gara-aku-jelek-buat-cowo?, datanglah seorang cowo dalam hidupku *eak*. Cowo ini emang bukan cowo biasa. Dari skala satu sampai sepuluh, dia adalah cowo yang perfect (baca: nilai sepuluh) dan memenuhi semua kriteriaku. Waaahh, keren, yak? Wkwkwk.. aku bukannya mau nyombong sih, karena selaluuu ada ketidaksempurnaan dalam kesempurnaan yang tampak, termasuk dia. Yap, semua kriteria yang aku buat ada dalam dirinya, kecuali kondisi fisiknya.

Sebagian orang yang tahu hubungan kami udah tahu gimana kondisi fisiknya dia, tapi mungkin cuma sedikit yang tahu gimana detail-nya. Aku nggak akan banyak membahasnya di sini; tapi intinya adalah, dia memiliki sebuah penyakit yang nggak bisa disembuhin. Dan itu mengubah fisiknya. Nggak cuma itu, kemungkinan penyakit itu bisa menurun ke generasi berikutnya juga besar; jadi yahhh... banyak banget pergumulan yang harus dihadapi.

Karakterku yang cukup keras dan perfeksionis itu pun dihancurkan Tuhan sedemikian rupa (oke, nggak sampai remuk total, tapi tetep aja sakit). Harapan bahwa akan ada prince charming yang tinggi dan yang menjadi alasanku mendongakkan kepalaku ke arahnya pun hancur. Sedih? Hm, nangispun kaya'nya udah jadi makanan sehari-hari (haha maaf hiperbola :p). Ekspektasiku akan si doi bener-bener di luar dugaan, and I'm so speechless --"

Di satu sisi, aku nggak nyangka bahwa akan ada cowo yang mau jalan bareng aku (waahhhh, dulu aku culun abis. Beda banget dari yang sekarang haha!). Tapi di sisi lain, aku juga mertimbangin keluarga (besarku). Iya, bukan cuma Papa-Mama dan dua adikku; tapi juga keluarga besar dari Papa dan Mamaku. Padahal jumlah mereka pun banyak (dan pola pikirnya macem-macem).

Aku masih inget waktu Papaku nggak setuju kalo aku menjalin hubungan dengan Koted. Dan saat (sampai sekarang) Papaku masih dalam proses menerima si doi, gantian muncul tantangan dari keluarga besarku. Hayo siapa hayo? Yakkk, jawabannya adalah...... Makku (a.k.a. Nenek)! -.-" Beliau bilang gini, "Vin, kan cowo itu harusnya bisa melindungi yang cewe, ya. Nah, Teddy (oya, Koted itu singkatan Ko Teddy. Panggilan sejuta umat wkwk) itu gimana? Bisa nggak dia jadi cowo yang melindungimu?". Aku jawab, "Bisa, Mak. Dia kan, udah dewasa juga."

Makku masih nggak puas. Beliau bilang lagi, "Tapi kan, dia sakit tuh (sakitnya menyerang persendian. Jadi kegiatan yang bisa dia lakukan pun terbatas). Beda sama Papa, kan? Bisa nggak dia benerin rumah kalo bocor? Manjat genteng kalo antenanya rusak?". Dan aku pun nangis :" huhu. Batinku, "Kagak, Mak. Tapi... apa standar seorang calon suami cuma kudu bisa gitu doang?" *sigh*. Dan obrolan kami pun terdistraksi gara-gara Papaku nongol, juga waktu Mamaku dan ciciknya Mamaku (a.k.a. Tanteku) nongol juga. Huahahaha... baper (bawa perasaan)nya jadi parah gini :p hiks!

Singkat cerita, waktu aku sama Mamaku ngobrol berdua, Mamaku ngomong gini, "Yang penting itu hubungan dia sama Tuhan udah cukup. Toh, Koted juga udah ngebuktiin itu, kan?". Beliau juga bilang bahwa bisa manjat atap dan benerin atap bocor bukanlah segalanya (tapi yaa bersyukurlah kalo calon suami kalian bisa, girls. Kan, mayan tuh, buat hemat biaya XD). Karena setiap orang dikasih kemampuan yang beda-beda sama Tuhan :) Plus, Tanteku juga bilang, "Udah, nggak apa-apa, Vin. Yang penting Papa sama Mamamu udah setuju, kan?". Aku mah cuma njawab, "Mama sih, iya. Tapi Papa kan, masih proses, Tante" huhu.

Tapi trus yaudah hehe. Makku juga udah mulai bisa menerima (aku yakin beliau pun juga butuh proses haha) si doi. Puji Tuhan :) Selangkah demi selangkah pergumulan ini mulai terlihat jalan keluarnya. Aku inget waktu Koted bilang gini, "Ciee yang tambah strong. Coba kalo dulu dibilangin gitu". Wakakakakaka nggak kuat deh mbayanginnya :p Soalnya, duluuu banget, aku itu orangnya gampang nyerah. Berantem dikit, pengen berhenti. Nyelekit dikit, pengen berhenti. Nggak gampang lho, proses dalam menjaga komitmen bareng calon ph itu. Selalu ada tantangan buat pengen berhenti -.- Tapi bersyukur karena sampai sekarang komitmen itu boleh kembali berlanjut dalam hubungan yang kami pergumulkan sejak tiga (hampir empat) tahun yang lalu :)


Apa itu artinya aku udah nggak takut lagi kalo dia masih tetep sakit kaya' sekarang? O, jelas aja aku masih takut -.- Entah berapa kali aku meragukan mujizat Tuhan (yang seharusnya nggak kulakukan. Duh, Tuhan, maafkan aku :""). Tapi setiap obrolan kami tentang hal itu selalu menguatkanku lagi. Tadi setelah dia cerita tentang penyakitnya itu, dia tanya, "Kamu masih mau tetep menerimaku, kan?". Aduhhhh rasanya itu mau nangis, Sodara :") hahaha. Gimana perasaanmu waktu ditanyain gitu, di saat kamu jadi kepikiran bahwa dia nggak akan bisa sembuh!? I felt my heart was broken into pieces *sigh*. Aku cuma jawab, "Ya tetep berusaha menerima, sih...". Iya, karena kalo cuma aku yang berusaha, aku pasti bakal langsung nyerah. Setiap kali kami membicarakan penyakitnya itu, aku selalu berdoa, "Tuhan, tolong aku agar aku tetap bisa mengasihinya; bahkan kalopun kondisinya dia tambah parah dan semua orang udah angkat tangan (FYI, semua dokter udah nggak tahu kudu ngapain sama penyakitnya itu. Jadi ya cuma bisa berharap ada mujizat :') But I know that God knows better than us. Pasti ada sesuatu yang mau Tuhan kerjakan dalam hubungan kami untuk kemuliaan-Nya)..."


Aku pun bersyukur karena sejak aku memutuskan untuk menjalani masa komitmen sejak tiga-hampir-empat tahun yang lalu itu, Tuhan kasih banyak insight dari para Godly women. Nggak cuma dari para bloggers yang blog-nya ada di Chocolates from the Other Boxes-ku (cek Home), tapi juga dari orang-orang di sekitarku; terutama para kakak di gerejaku hehe. Aku belajar banyak tentang kesetiaan, pengampunan, kasih, dan nilai-nilai Kekristenan dari mereka. Sekalipun ada banyak pergumulan yang mereka hadapi, tapi ada satu hal yang nggak berubah: their faith in God.

Waktu denger ada yang cerita kalo persiapan (dan kehidupan) pernikahan itu nggak mudah, aku jadi mikir. "Duh, ntar kalo udah merid trus gimana yaa? Aku bisa tetep tahan sama Koted nggak ya? Gimana kalo sakitnya tambah parah? Gimana kalo gini? Gimana kalo gitu?". Huaaaaaaa... so much things to be prayed! >.< Aku dan dia nggak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, tapi kami mau belajar untuk menyerahkan hidup kami sepenuhnya kepada Tuhan :) Iya, kami percaya bahwa Tuhan memberikan akal budi kepada kami untuk memilih sesuatu, tapi kami pun membutuhkan Dia untuk menjadi terang dalam pergumulan kami. Karena tanpa-Nya, hidup kami hampa dan tak berarah.


Tadi aku nemu salah satu quote yang dijadiin caption fotonya my mentor's future spouse. Tulisannya gini, "Jika pasanganmu adalah seorang yang takut akan Tuhan, kamu nggak perlu takut berjalan bersamanya, karena ada Tuhan yang selalu ia (dan kamu) andalkan". Dan, ya, itu bener! Selama kami menjalin hubungan ini, kami melihat betapa besar kasih Tuhan yang dilimpahkan-Nya kepada kami. Nggak cuma itu, kami pun semakin belajar untuk menghayati bahwa we can't measure His love, forgiveness, and mercy; for they're too big to be measured. Itulah yang kami pelajari ketika kami sedang merasa putus asa, ketika kami kecewa, dan ketika kami merasa nggak ada lagi tujuan untuk melangkah.


Dear single (and couple) fighters, perjuangan kami belum selesai di sini; begitu pula dengan kalian. Masih ada banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum menjalin hubungan, termasuk persiapan hati dan kematangan rohani kita. Apakah kita siap untuk mengasihi calon ph kita dalam segala situasi, termasuk dalam situasi yang nggak pernah kita duga? Apakah kita siap untuk tetap mengampuninya ketika dia mengecewakan kita? So, keep your spirit! Tetep berdoa dan setialah dalam menanti janji Tuhan :D Karena seringkali, jawaban doa itu nggak pernah kita duga sebelumnya.



Show me Your way, O Lord
Show me Your way
Don't let me turn into wrong way


(Ketika kita merasa kehilangan arah,
ingatlah bahwa Tuhan punya banyak cara untuk mengembalikan kita kepada track yang benar :))

0 comments:

Post a Comment

 

Chocolates of Life Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea